Dustin sering bermimpi buruk. Orangtuanya memaksa dia masuk ke Camp Full Moon dengan harapan dia bisa berubah. Maka, ketika teman barunya mengajak untuk bertukar identitas sebagai candaan, ia pun menyetujuinya. Serentetan nasib baik langsung didapatkannya ketika menjadi "Ari". Ia bisa tinggal di pondok paling bagus dan teman-teman barunya memperlakukannya dengan istimewa bak selebritas. Namun, semuanya jadi mencurigakan sejak Paman Lou menceritakan legenda Si Pemangsa.
Kalau ini adalah sekuel, aku enggak ingat pernah baca cerita sebelumnya. Tapi, aku pernah baca cerpen R.L. Stine yang juga tentang "perkemahan satu dan perkemahan lain dipisahkan oleh perairan". Banyak yang kecewa karena mereka bilang ini bukan lanjutan. Aku sendiri senang-senang saja, sih.
Blurb yang ternyata bagiannya sudah muncul di awal novel dan ternyata kejadiannya tidak menakutkan seperti ekspektasi meski cukup disturbing—hal ini bisa membuat pembaca kehilangan minat. Tapi, hal itu enggak terlalu membuatku sebal karena si protagonis bukan salah lihat dan ternyata cuma mimpi.
Dari mimpi kelewat mengerikan Dustin, kukira dia bakal menjadi tipe protagonis lain yang super paranoid di sepanjang cerita dan ternyata di halaman berikutnya bukan itu yang dilihatnya. Tapi, ternyata rasa takut dan penglihatannya normal-normal saja, jadi hal itu membuatnya tidak menjengkelkan.
Sepertinya, istilah psikolog anak belum tenar pada tahun diciptakannya novel ini, ya. Atau kuanggap begitu saja karena orangtua Dustin jelas-jelas tahu bahwa anak mereka mempunyai masalah dengan "selalu mimpi buruk tentang apa pun dan sangat seram", tapi malah dipaksa masuk ke kamp dengan judul bernuansa horor pula.
Aku benar-benar suka pembawaan suasana gelap di sini. Misterius, dibuat bertanya-tanya, dan unsettling. Pertama-tama diperlakukan dengan sangat baik, lalu lama-lama disudutkan. Ada hal-hal tak masuk akal yang dilihatnya dan ternyata memang benar. Aku senang karena judul kampnya menjebakku. Kukira musuh utamanya bakal apa, eh, ternyata malah apa.
Ending-nya kali ini membuatku benar-benar merasa kalau penulisnya sengaja ingin membuat jengkel pembacanya. Padahal, secara keseluruhan ceritanya, suasananya sesuai dengan keinginanku banget dan hampir membuatku ingin memberikan nilai empat bintang. Tapi, ending-nya seperti hampir mematahkan hatiku.
Awalnya, aku bisa mengabaikan kelemahan-kelemahan di novel ini karena memang seasyik itu. Tapi, berkat ending itu, aku dibuat berpikir kira-kira nasib Dustin bakal bagaimana. Permasalahannya dengan Ari, adiknya, dan orang-orang di kamp juga belum terselesaikan.
Ada tiga cara yang kupikirkan, yaitu:
1. Kemungkinan besar si antagonis adalah tipe pembohong akut, jadi dia juga berbohong soal adanya jalan raya di seberang sungai. Alhasil, Dustin memang berakhir tersesat di pilihan ini.
2. Monster tangan tidak sama dengan arwah yang ingin beristirahat dengan tenang, jadi kemungkinan besar monster tangan enggak ikut menghilang ketika para hantu menghilang. Dustin pun enggak bisa balik menyeberangi sungai karena masih ada monster sementara batang pohonnya patah.
3. Ketika sebagian peserta yang merupakan hantu mendadak menghilang, seharusnya para manusia di kamp itu sadar kalau Dustin berhasil mengalahkan musuh. Adiknya juga pasti bertanya-tanya. Setelah menemukan keberadaannya, mereka pun bisa menolong dengan memberikan batang pohon lain supaya Dustin bisa menyeberang lagi.
Pertanyaan:
1. Omong-omong, ada apa dengan sungai itu sampai-sampai ada tiga makhluk supernatural berkaitan dengannya? Entah kenapa Si Pemangsa ingin membunuh manusia di sungai; arwah penasaran harus meminta manusia menyeberangi sungai itu dengan selamat supaya mereka bisa beristirahat dengan tenang; dan monster tangan akan membunuh siapa saja yang lewat di sana. Di halaman 101, si antagonis sudah menceburkan diri ke sungai, tapi kenapa pas itu monster-monsternya enggak menyerangnya?
2. Kenapa para hantu mengira "Ari" sudah langsung tahu tugasnya padahal enggak diberi tahu apa-apa? Sementara gerak-gerik Ari pas itu menunjukkan kalau dia juga masih belum tahu.