Jangan tertipu dengan warna sampul buku ini yang cenderung lembut dan manis. Warna merah muda yang dominan, krem serta hijau, yang mungkin biasanya mudah kita lihat sebagai ciri-ciri karya chick-lit, bisa jadi dipilih oleh penerbit dan penulis demi menyamarkan apa yang sebetulnya dikandung buku ini. Apalagi kalau Anda cuma membeli buku ini karena tergiur gambar seorang perempuan yang sedang berusaha mengaitkan beha hijau kembang-kembangnya lantas membayangkan kisah-kisah seksual serbatanggung baik dalam segi deskripsi maupun narasi.
Jika ENTROK terbit sebelum 1998, ia pasti akan dituduh sebagai karya subversif. Namun, karena terbit pada April 2010 maka ENTROK cukuplah kiranya jika dimasukkan ke dalam kategori semi-subversif. Bukan oleh saya, tentu saja. Saya cuma mengelompokkan buku berdasarkan minat atau sistem klasifikasi Dewey (ketika masih jadi pustakawan jejadian). Ciri-ciri provokasi subversif (atau semi-subversif) yang dipenuhi oleh ENTROK antara lain adalah mengangkat relasi pemerintah dan rakyatnya ke salah satu ranah paling mulia sepanjang sejarah manusia: sastra.
Jaman apa yang dipakai sebagai latar dalam ENTROK? Kalau mau dilihat dari perspektif matematis, ENTROK membeberkan kisah yang terjadi selama kurang lebih lima puluh tahun, mulai 1950 sampai 1999. Sementara kalau mau dilihat dari perspektif sejarah politik Indonesia, ENTROK adalah novel tentang jaman partai beringin dan kejayaan warna kuning; jaman ketika tentara meminta sumbangan, kematian-kematian tak terjelaskan; jaman ketika kata ‘keamanan’ justru menjadi anekdot yang mencekam rakyat.
Dua tokoh utama dalam ENTROK adalah Marni dan Rahayu. Marni lahir dalam kemiskinan. Nasibnya adalah nasib jutaan anak perempuan di muka bumi ini: ayah brengsek, sehingga ibu banting tulang sendirian. Bersama Simbok, ibunya, Marni, mengerahkan segala daya untuk bertahan hidup, menjadi buruh pengupas singkong yang dibayar dengan singkong pula. Dibayar pakai singkong mungkin tidak akan pernah menjadi masalah bagi Simbok dan Marni kalau saja Marni tidak pernah melihat si Tinah, anak Pakliknya memakai entrok alias beha alias kutang. Marni yang memang merasa risih dengan dadanya yang mulai tumbuh merekah sebagaimana normalnya seorang gadis remaja, ingin juga punya entrok, segitiga yang bisa menutup gumpalan dada.
Sebuah entrok mustahil bisa didapatkan Marni dengan menyerahkan singkong yang ia terima sebagai upah. Marni pun memutar otak agar bisa diupah orang dengan uang, seperti laki-laki lain di Pasar Singget, tempatnya dan Simbok biasa mangkal mengupas singkong. Marni pun alih profesi menjadi kuli angkut. Walaupun sempat mendapat perlawanan dari Simbok karena angkat barang adalah pekerjaan yang ora ilok untuk seorang perempuan, Marni maju terus. Kerja keras dan kemauan Marni membuahkan hasil. Dari uang yang berhasil dia kumpulkan, selain bisa membeli entrok, dia pun dapat mengumpulkan modal untuk mulai menjual barang secara eceran, berkeliling dari satu rumah ke rumah lain di desanya.
Rupanya Marni memiliki intuisi dagang yang tajam. Sukses dengan jualan sayur dari pintu ke pintu, ia pun menambah jenis barang dagangannya seperti panci dan ember. Pembeli pun bisa membayar secara kredit, bisa per hari atau per minggu. Sukses dengan panci, bisnis uang dirambahnya. Marni seolah menjadi Bank Singget, pedagang, guru bahkan priyayi mendatanginya memohon dipinjami uang dengan perjanjian pengembalian ditambah bunga.
Singkat cerita, Marni menjadi orang kaya. Dalam perjalanannya menjadi kaya itu ia menikah dengan Teja dan akhirnya punya seorang putri, Rahayu. Sebagai anak orang kaya, Rahayu mengecap pendidikan formal yang disediakan negara. Dari sinilah perpecahan antara Rahayu dan Marni dimulai. Di sekolah itulah Rahayu mendengar dan mendapat pengajaran bahwa ibunya adalah pendosa. Ibunya tidak memuja Tuhan seperti yang diajarkan oleh guru agama Rahayu, melainkan membuat tumpeng, selamatan, menziarahi kuburan dan berdoa di bawah pohon asem. Semakin lama Rahayu semakin membenci ibunya, ia percaya bahwa ibunya rentenir, menarik uang dari kesusahan warga desa dan pada akhir masa nanti ibunya akan digodok di api neraka.
ENTROK menyajikan konflik Marni dan Rahayu dari sudut pandang kedua tokoh tersebut. Mereka secara bergantian menjadi narator. Namun, ENTROK bukanlah sebuah novel keluarga tentang perang dingin antara ibu dan putrinya. Dijalin dengan sangat erat namun halus di dalamnya adalah perkembangan politik dan sosial Indonesia pada masa itu. Sejak kekayaannya membengkak, Marni mulai menjadi bulan-bulanan penguasa, tak ada satu pun hari dalam kehidupannya yang lepas dari premanisme aparat pemerintah. Tagihan-tagihan konyol senantiasa berdatangan, mengincar ketenangan Marni, si pekerja keras yang buta huruf. Sialnya, Teja, suaminya yang seorang kuli dan memang bermental kuli, selalu memperburuk keadaan dengan kepatuhannya pada aparat, mengiakan, berapa atau apa pun yang diminta. Sementara Rahayu yang akhirnya kuliah ke Yogyakarta berhadapan dengan aparat dalam konteks yang lebih politis. Awalnya, sebagai aktivis Islam di kampus, namun kemudian turun langsung ke tempat yang dipaksa jadi waduk raksasa.
Dalam kisah Marni pembaca dapat melihat bagaimana pada masa itu uang menjadi satu-satunya bahasa yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak: penguasa dan yang dikuasai. Dan jika uang adalah bahasa, maka ancaman, penggertakan, sabotase dan kematian adalah tata bahasa yang harus dipatuhi dan dapat dimodifikasi secara bebas oleh sang penguasa kepada yang dikuasai.
Sedikit berbeda dengan Marni yang tertindas karena uang yang ia dapat dari kerja kerasnya sendiri, Rahayu dianggap berbahaya dan karenanya juga perlu dibungkam justru karena idealismenya sebagai seorang muslim yang makan bangku sekolahan (bahkan bangku universitas). Sama dan sebangun dengan mereka yang menindas Marni, negara, melalui tangan-tangan keji aparatnya, bukan saja mencegah Rahayu menyuarakan kebenaran, tapi bahkan membunuh suaminya, memenjarakannya dan melabelinya PKI, tindakan penistaan pamungkas ala orde baru yang berujung pada kehancuran ibu dan anak itu.
ENTROK adalah karya pertama Okky Madasari, seorang Sarjana Ilmu Politik lulusan UGM yang memilih berkarier sebagai wartawan dan penulis. Dilihat dari latar belakan Okky yang asli Jawa, tidak heran bahasa dalam ENTROK pun sangat Jawa. Kata-kata Jawa, baik yang masih memerlukan catatan kaki maupun yang sebetulnya sudah terserap ke dalam Bahasa Indonesia, tersebar di seluruh buku. Saya tidak melihat ini sebagai sesuatu yang mengganggu, justru sebaliknya menambah kekhasan ENTROK sebagai sebuah novel karya penulis Indonesia. Gaya bahasa yang dipakai Okky kebanyakan adalah gaya bahasa lisan yang bisa dengan gampang kita dengar di jalan, pasar atau mungkin di televisi. Dengan sendirinya ENTROK menjadi cerita yang mengalir dan tidak rumit.
Kisah MARNI dan Rahayu dalam ENTROK berakhir di tahun 1999, ketika Rahayu diceritakan akan mendapat KTP ‘normal’ sebagai pengganti KTP berinisial ET yang dimilikinya sejak dibui membela warga korban pembangunan waduk. Kalau dihitung-hitung, sudah sepuluh tahun lebih tahun itu berlalu. Tetapi ironisnya, hal-hal yang membuat geram sepanjang saya membaca ENTROK masih dengan mudah saya lihat hari ini. Relasi negara dan rakyatnya timpang, keadilan jadi basa-basi, rakyat takut pada orang-orang berseragam, kemiskinan baik dalam perspektif ekonomi maupun sosial budaya ada di mana-mana dan apa yang diangkat koran cuma dijadikan oleh penguasa sebagai rujukan untuk membungkam mereka yang sebetulnya bisa bicara tentang kebenaran. Jadi, sebetulnya yang mana yang bentrok, orang-orang seperti Rahayu dan Marni atau negara dan rakyatnya sendiri?