Harumichi Mizuki's Reviews > Book's Kitchen

Book's Kitchen by Kim Jee Hye
Rate this book
Clear rating

by
13737713
's review

really liked it
bookshelves: korean-literature, penerbit-gpu, highly-recommended, pingin-punya

Ia memilih nama "Book's Kitchen" dengan harapan tempat itu bisa merekomendasikan buku-buku yang sesuai dengan selera masing-masing orang dan menjadi tempat mereka bisa bersantai sambil membaca buku, sama seperti orang-orang yang merasakan ketenangan jiwa setelah menyantap makanan enak."

(halaman 12)



Bookstay, jenis penginapan di Korea, menawarkan tempat bagi mereka yang ingin membaca buku dengan tenang. Bayangkan, sesibuk apa kehidupan orang Korea sampai mereka butuh penginapan tersendiri hanya agar bisa menikmati buku. Namun, di Indonesia pun aku sering menerima keluhan dari teman-temanku yang mengaku tidak sempat membaca buku karena kesibukan. Tak kusangka hobi yang kujalani dengan ringan nyaris setiap hari ini ternyata justru kemewahan bagi orang lain.

Yu-jin membuka bookstay Book's Kitchen karena ingin memulai hidup baru setelah terpaksa menjual perusahaan start-up-nya. Ia sempat berkonflik hebat dengan seniornya, sang CEO perusahaan.

Ada 10 cerita. Setiap kisah memotret episode para pengunjung Book’s Kitchen, Yu-jin, dan juga 3 pegawainya, Si-woo, Hyeong-jun, dan Se-rin.

Si-woo, calon arsitek yang gagal lulus ujian. Hyeong-jun, lulusan Jurusan Musik yang gagal jadi penulis lagu. Se-rin gagal menikah. Baik Yu-jin dan tiga pegawainya gagal mewujudkan impian utamanya sehingga terpaksa mengambil jalan alternatif. Jalan alternatif tak terduga yang ternyata justru menyembuhkan tidak hanya diri mereka sendiri, melainkan juga banyak orang.

Para pengunjung datang dari kota, lelah mengikuti derasnya arus kehidupan urban. Ada Da-in, penyanyi terkenal yang masih berduka karena kematian neneknya. Ada So-hee, calon hakim muda dengan kanker tiroid. Ada Na-yun yang galau dengan kariernya yang stagnan. Ada Ji-hun yang sedang memperjuangkan cintanya yang hilang. Ada Su-hyeok, putra pemilik pemilik perusahaan besar yang tak akur dengan ayahnya. Ia tertekan setelah gagal mewujudkan cita-citanya menjadi sutradara pertunjukan musikal dan kematian ibunya. Senior Yu-jin pun ikut berkunjung untuk memperbaiki hubungan.

Luka-luka mereka tersembuhkan setelah mengunjungi Book’s Kitchen. Bukan hanya karena keindahan dan ketenangan Soyang-ri Book’s Kitchen serta koleksi bukunya, melainkan juga berkat interaksi hangat penuh ketulusan yang disajikan Yu-jin dan para pegawainya. Book’s Kitchen seperti rumah berisi keluarga yang dengan tulus mengulurkan tangan untuk menyambut kedatangan mereka yang lelah dihantam cobaan hidup.

*

Nenek dan Langit Malam

Da-in mendadak merasa takut, karena cara dunia memperlakukan dirinya berubah drastis, padahal dirinya masih sama seperti tiga tahun lalu. Tiba-tiba saja orang-orang bersemangat tentang dirinya dan memuji kemampuannya menyanyi. Da-in bersikap hati-hati, karena ia berpikir kepopulerannya ini mungkin bisa meletus bagaikan gelembung sabun suatu hari nanti.

(hal 19)


Da-in tidak terlalu suka musim semi. Bunga-bunga bermekaran di seluruh dunia dan bersinar cemerlang, seolah-olah menyiratkan bahwa itulah saatnya orang-orang melupakan musim dingin yang gelap, dingin, dan suram. Di musim semi, semua orang berbicara tentang harapan baru, tantangan baru, dan awal baru. Namun, mungkin musim semi enggan melihat bunga-bunga mekar, dan mungkin masih teringat masa lalu yang kelam. Meskipun mungkin masih ada penyesalan yang tersisa, musim semi hanya berusaha melakukan tugasnya meskipun ia merasa kesulitan melakukan perannya dengan cara sendiri.

(hal 28)


"Bunga plumlah yang pertama kali merasakan kedatangan musim semi. Mereka tidak takut dingin dan akan mengerahkan segenap tenaga untuk mekar.

(Nenek Da-in, hal 29)


*

Selamat Tinggal Usia Du Puluhanku

Na-yun, anggota tim management support dalam divisi IT sebuah perusahan jaringan telekomunikasi. Sebentar lagi dia mencapai usia 30 tahun dan itu membuatnya bimbang. Meski tempatnya bekerja sekarang tak memberinya masalah besar, ia merasa stuck karena sudah empat tahun bekerja sebagai orang termuda di timnya dan hanya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang remeh. Ia sama sekali tak bisa membayangkan sampai kapan dia berada dalam kondisi yang sama seperti sekarang.

Rupanya tak hanya ia, para rekan kerjanya, bahkan mereka yang sudah senior pun galau menghadapi masa pensiun. Dengan perasaan demikian, Na-yun kemudian diajak bertemu oleh dua teman masa kuliahnya, Se-rin dan Chan-wook. Se-rin kini adalah ilustrator lepas. Sedangkan Chan-wook bekerja sebagai sound effector di perusahaan game. Mereka berdua mengajak Na-yun berlibur ke book stay Soyang-ri tempat Si-woo bekerja. Si-woo sendiri yang menghubungi Chan-wook dan memintanya datang. Mereka berempat dulu dekat semasa kuliah karena tergabung dalam klub iklan. Mereka menjuluki diri mereka Empat Musketir. Setelah lulus, Si-woo katanya ingin mengikuti ujian untuk menjadi arsitek. Namun, kemudian dia menyerah dan pergi ke Noryangjin untuk menjadi pegawai negeri, dan kemudian malah menghilang.

Setelah lulus kuliah, mereka menjalin hubungan dengan orang-orang lain, putus hubungan, dan menjalani hidup dengan perasaan tersesat sampai mereka akhirnya mendapat pekerjaan.

(hal 67)


Pada awal usia dua puluhan, rasanya sangat alami bagi mereka untuk menjalani kehidupan bersama-sama. Namun, di akhir usia dua puluhan, mereka seolah hidup di planet-planet terpisah dan hanya bisa berkomunikasi melalui stasiun luar angkasa.

(hal 68)


Chan-wook mendesah. "Jujur saja, aku sendiri tidak tahu apakah aku ingin menikah. Aku sama sekali belum siap, tapi aku merasa dunia menyodorkan jadwal ke wajahku sambil berkata bahwa usiaku sudah cukup untuk menikah."

Na-yun mengunyah camilan dan ikut mendesah. Ia mengaduk-aduk eomuktang yang dididihkan di atas api kecil lalu berkata, "Benar. Rasanya seperti tanggal ujian masuk kuliah semakin dekat, tapi aku sama sekali belum menguasai mata pelajaran yang akan diujikan."

(Percakapan setelah mereka tahu mantan pacar Se-rin, Nam-woon oppa akan menikah dengan orang lain, hal 71)


Rasanya seperti menelan obat pahit. Bukan karena nyaris berusia tiga puluh tahun, melainkan karena mereka tidak tahu apakah mereka pantas berusia tiga puluh tahun.

(hal 74-75)


*

Jalan Paling Singkat dan Optimal

"Sepertinya ada partisi transparan di sekeliling wajahnya. Seolah-olah ia diselubungi lapisan pelindung yang sering muncul dalam film-film superhero. Maksudku, semacam perisai pelindung untuk menghadapi serangan orang jahat.

(Pendapat Cha Si-woo tentang Choi So-hee yang terlihat begitu dingin, hal. 101)


Yujin mengangguk. "Sepertinya semua orang menganggap bahwa menduduki peringkat pertama adalah jawaban untuk menjalani kehidupan yang sukses. Sepertinya masyarakat Korea berharap orang-orang belajar berjalan tanpa pernah terjatuh sekali pun... Kenyataan itu membuat orang-orang takut hidup mereka akan berakhir apabila mereka tersandung atau melenceng sedikit dari jalan yang sudah ditentukan."

"Begitulah. Haah... Kita tidak seharusnya langsung yakin bahwa jalan ini adalah jalan terbaik hanya karena GPS berkata ini jalan paling singkat," katanya sambil tersenyum lesu.

So-hee bertepuk tangan satu kali dengan mata berkilat-kilat. "Benar! Bahkan GPS tahu, kenapa orang-orang berpura-pura tidak tahu? Pengaturan jalan optimal!"

Mereka semua bertukar pandang dan tertawa. Istilah "jalan optimal" menyelimuti dada So-hee bagaikan ombak yang tenang. Hidup ini bukan lomba lari 100 meter, bukan juga maraton. Mungkin hidup adalah proses mencari kecepatan dan arah yang sesuai denganmu untuk menetapkan jalan yang terbaik untukmu.

(Momen ketika So-hee dan Hyeong-jun akhirnya membuka diri, hal 117-118)

*

Mimpi di Malam Musim Panas

Orangtua Ji-hun mengisi hati orang-orang yang kehilangan cahaya dan dengan lembut menyeterika hati mereka yang berkerut. Karena itu, tidak heran jika usaha penatu dan toko swalayan mereka berkembang.

(hal. 129)


Kalimat-kalimat dalam buku berubah menjadi suara ke seluruh penjuru ruangan. Huruf-huruf yang tercetak di kertas melangkah ke dunia nyata melalui suara seseorang bagaikan bayi hewan yang baru lahir.

(penggambaran suasana pembacaan buku Where the Crawdad Sings, hal 141)


*

Pukul 6 Pagi Di Hari Jumat Kedua di Bulan Oktober

Galeri Seni Sunhwajin. Kurator Kim Woo-jin.

Bagi Su-hyeok, ayahnya bagaikan lempengan besi yang keras dan tebal. Orang yang kuat dan tidak akan menderita luka lecet sedikit pun meskipun ditinju.

(hal. 163)


Walaupun begitu, Ayah tidak menuntut dan tidak marah-marah. Hanya saja, ada semacam pesan yang tersirat dalam hidup sang ayah, yang sekokoh benteng, yang diam-diam terlontar kepada putra sulungnya.

Kau terlalu lemah. Dunia ini bagaikan badai besar, dan kau tidak bisa bertahan hidup sebagai buah persik yang lembek dan matang. Sadarlah.

(hal 164
)

"Setelah itu, apabila aku merasa tertekan atau marah, aku memilih buku yang bisa membawaku tenggelam ke dalam dunia yang berbeda. Misalnya cerita-cerita detektif atau kisah-kisah fantasi. Begitu aku terjun ke dalam dunia novel, aku bisa melupakan rasa sakit kenyataan seakan aku baru saja menelan obat penghilang rasa sakit."

(Yu-jin pada Su-hyeok, hal 190)


*

Salju Pertama, Kerinduan dan Kisah

Cerita saat Yu-jin bertemu kembali dengan seniornya yang dulu pernah bekerja sama dengannya di perusahaan start-up.

Selama tiga tahun tidak bertemu, ada sungai besar yang mengalir di antara mereka berdua yang sudah berusia di atas tiga puluh tahun. Gaung hampa bergema di celah antara waktu yang terputus.

(hal 210)


Yu-jin merasa semua orang pernah mengalami saat bagaikan salju pertama. Ada saatnya ketika keseharian yang kacau mereda sesaat dan perubahan mulai terjadi. Ada kerangka hidup yang baru akan muncul setelah masa lalu, yang kacau akibat kegagalan dan retakan, tertutup lapisan putih dari salju pertama. Ketika ujung ranting pohon pinus yang tajam diselimuti salju, ujung ranting itu akan berubah bulan dan pohon itu akan berubah menjadi pohon bunga salju berwarna putih. Saat itulah masa-masa penuh penderitaan yang tak bisa dipahami dulu berubah menjadi pemandangan sarat makna.

(hal. 211)


*

Karena Natal

"Su-hyeok, kuharap kau bertemu dengan seseirang dengan siapa kau bisa mengobrol selama berjam-jam. Yang penting, dia bisa berbicara tentang kisah dari lubuk hati terdalam denganmu sepanjang malam. Aku sudah pernah mengalaminya, jadi aku tahu. Hari-hari yang indah akan berlalu, saat-saat penuh gairah dan kebahagiaan bisa memudar. Namun, kisah akan tetap ada. Karena kisah tersimpan dalam hati. Kisah tidak akan pudar dan tidak akan lenyap, tidak akan retak dan tidak akan hancur...."

(Ayah Su-hyeok, hal 258)


*

Epilog 1. Ketika Cahaya Bintang dan Angin Berhenti Sejenak.

Cerita Da-in yang sedang berlibur ke Hawaii, menikmati embusan angin malam dari tempat dia menginap, lalu menulis lagu tentang neneknya.

Epilog 2. Hari Ini, Tepat Setahun yang Lalu

Cerita tentang perjalanan Yu-jin menemui seniornya untuk menghadiri pembukaan perpustakaan di perusahaan tempat seniornya bekerja. Kemudian, ketika ia pulang ke Soyang-ri, Yu-jin pun mengenang hari-hari yang sudah dilaluinya hingga akhirnya ia bisa membuka Book Kitchen.
2 likes · flag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Book's Kitchen.
Sign In »

Reading Progress

April 15, 2024 – Shelved as: to-read
April 15, 2024 – Shelved
September 18, 2024 – Shelved as: owned-but-haven-t-been-read
July 13, 2025 – Started Reading
July 13, 2025 – Shelved as: penerbit-gpu
July 13, 2025 – Shelved as: korean-literature
July 13, 2025 –
page 12
4.29%
September 1, 2025 –
page 24
8.57% "Sisi lain kesuksesan artis, ya."
September 2, 2025 –
page 34
12.14%
September 2, 2025 –
page 54
19.29% "Nenek dan Langit Malam. Benar-benar cerita yang hangat."
September 2, 2025 –
page 88
31.43% "Jalan Paling Singkat dan Optimal."
September 2, 2025 –
page 98
35.0% "Choi Soo-hee"
September 2, 2025 –
page 107
38.21% "Cek hal 101 for quote"
September 2, 2025 –
page 121
43.21% "Mimpi di Malam Musim Panas"
September 2, 2025 –
page 139
49.64%
September 2, 2025 –
page 158
56.43% "Lho. Jadi apa yang sebenarnya terjadi pada Ma-ri? Keluarganya emang kayak apa? Cuma disebutkan dia kena Ripley Syndrome. Udah."
September 2, 2025 –
page 159
56.79% "Pukul 6 Pagi Di Hari Jumat Kedua di Bulan Oktober."
September 2, 2025 –
page 180
64.29%
September 2, 2025 –
page 180
64.29% "Galeri Seni Sunhwajin. Kurator Kim Woo-jin."
September 2, 2025 –
page 186
66.43%
September 3, 2025 –
page 190
67.86% "Cek halaman 190 for quotes."
September 3, 2025 –
page 198
70.71% "Salju Pertama, Kerinduan, dan Kisah."
September 3, 2025 –
page 210
75.0% "Cek 210 for quotes."
September 3, 2025 –
page 211
75.36% "211 for quotes."
September 3, 2025 –
page 215
76.79% "Cek hal 215 for quotes."
September 3, 2025 –
page 221
78.93% "Karena Natal."
September 3, 2025 –
page 254
90.71%
September 3, 2025 –
page 258
92.14% "Cek 258 untuk percakapan mengharukan antara Su-hyeok dan ayahnya."
September 3, 2025 –
page 261
93.21% "Epilog 1. Ketika Cahaya Bintang dan Angin Berhenti Sejenak."
September 3, 2025 –
page 270
96.43% "Epilog 2. Hari Ini Tepat Setahun yang Lalu"
September 3, 2025 – Shelved as: highly-recommended
September 3, 2025 – Shelved as: pingin-punya
September 3, 2025 – Finished Reading

No comments have been added yet.