Eksistensial Quotes
Quotes tagged as "eksistensial"
Showing 1-7 of 7
“Zoyya
Ada yang luput tertangkap dalam binar mata Zoyya
Usia muda yang ingin nyatakan dirinya sendiri
Seekor ayam berbulu merah tak kasat mata
Sebuah rahasia yang sengaja ia sembunyikan,
Tertutup rapat dalam pintu kamar terkunci
Dan lubang menganga dari separuh dunia
Siapa melihat Zoyya di sana asyik dengan pikiran sunyi?
Membuat tangga ke surga untuk meraih kebahagiaan
Apakah kau lihat Zoyya dalam dirimu, sebagaimana aku menemukan Zoyya dalam diriku?
Ada kepahitan yang gemetar seperti daun hijau tersentuh angin
Seperti riak air di danau yang menggigil kedinginan
Betapa tikaman senyap itu terasa sangat menyakitkan
Betapa aum kegelisahan itu terdengar sangat menakutkan.
Mungkin, kau tak akan pernah melihat dia menangis
Sepintas, ia hanya tertawa-tawa gembira dalam semesta kecilnya.
Mengubur semua kisah dalam layar ponsel yang tak henti berkedip
Dalam ratusan tanda cinta yang beterbangan ke udara
Kita memuja Zoyya seperti memuja masa kanak-kanak kita yang polos dan mungkin naif
Ketelanjangan yang tak pernah ditutup-tutupi
Hanya bisa menduga-duga berapa usia Zoyya saat ini
Sekali lagi lepas dari tatapan mata berang mama dan papa
Luka yang ia samarkan dari sinar matahari pagi
Dan segala kemungkinan apa yang bisa terjadi di sekolah;
Nama yang sengaja ia lupakan,
Identitas yang tak ingin ia bagi
Tapi betapa...
Betapa usia belia tak berarti apa-apa baginya
Harapan yang tak lagi ia dambakan, kerinduan yang sepertinya tak ia kehendaki.
Ia telah menembus kegelapan itu dengan caranya sendiri
Mungkin ia lupa pulang
Mungkin ia lupa jalan untuk kembali
Sebab rumah hanyalah
sebuah kenangan sedih
yang sudah lama
ingin ia tinggalkan.
Oktober 2025”
―
Ada yang luput tertangkap dalam binar mata Zoyya
Usia muda yang ingin nyatakan dirinya sendiri
Seekor ayam berbulu merah tak kasat mata
Sebuah rahasia yang sengaja ia sembunyikan,
Tertutup rapat dalam pintu kamar terkunci
Dan lubang menganga dari separuh dunia
Siapa melihat Zoyya di sana asyik dengan pikiran sunyi?
Membuat tangga ke surga untuk meraih kebahagiaan
Apakah kau lihat Zoyya dalam dirimu, sebagaimana aku menemukan Zoyya dalam diriku?
Ada kepahitan yang gemetar seperti daun hijau tersentuh angin
Seperti riak air di danau yang menggigil kedinginan
Betapa tikaman senyap itu terasa sangat menyakitkan
Betapa aum kegelisahan itu terdengar sangat menakutkan.
Mungkin, kau tak akan pernah melihat dia menangis
Sepintas, ia hanya tertawa-tawa gembira dalam semesta kecilnya.
Mengubur semua kisah dalam layar ponsel yang tak henti berkedip
Dalam ratusan tanda cinta yang beterbangan ke udara
Kita memuja Zoyya seperti memuja masa kanak-kanak kita yang polos dan mungkin naif
Ketelanjangan yang tak pernah ditutup-tutupi
Hanya bisa menduga-duga berapa usia Zoyya saat ini
Sekali lagi lepas dari tatapan mata berang mama dan papa
Luka yang ia samarkan dari sinar matahari pagi
Dan segala kemungkinan apa yang bisa terjadi di sekolah;
Nama yang sengaja ia lupakan,
Identitas yang tak ingin ia bagi
Tapi betapa...
Betapa usia belia tak berarti apa-apa baginya
Harapan yang tak lagi ia dambakan, kerinduan yang sepertinya tak ia kehendaki.
Ia telah menembus kegelapan itu dengan caranya sendiri
Mungkin ia lupa pulang
Mungkin ia lupa jalan untuk kembali
Sebab rumah hanyalah
sebuah kenangan sedih
yang sudah lama
ingin ia tinggalkan.
Oktober 2025”
―
“Topeng Kemunafikan
Mengapa kau tanam mawar itu di pinggir jalan Kay?
Apakah sengaja,
agar semua orang bisa memungut
atau pura pura mencintainya?
Tapi bukankah kau tahu,
tak ada rasa kagum semurah itu?
Seperti semua harapan palsu
yang kau tabur di atas ranjangmu.
Bunga mawar merah jambu
yang mekar sejenak
sebelum layu dibakar waktu.
Masih banyak cinta
yang sesungguhnya tak kau mengerti.
Apakah cuma itu satu-satunya cara untuk membunuh kesendirian
dan rasa sepi?
Luka parut di dada dan jantung
yang perlahan hilang detaknya.
Sudah berapa lama
engkau merasa jemu
dengan rutinitas yang itu-itu juga.
Seperti pikiran dangkal
yang terus menghantui kita
dengan potongan kata dusta.
Apakah kesedihan semacam ini
yang ingin engkau abadikan?
Dari satu frame ke frame yang lain.
Dari satu video ke video berikutnya. Cuma untuk menampilkan ingatan
yang sudah kau hafal di luar kepala
dan senyum getir yang susah payah
kau sembunyikan dari dunia.
Atau barangkali,
itulah caramu untuk mengejek
dan mencemooh kami, karena
terlanjur terjebak dalam ritual
yang menghinakan ini.
Ritual memuja ego
dan menipu diri sendiri.
Sebab harus kami akui,
cuma engkau yang sesungguhnya
paling murni di antara kita.
Cuma engkau satu satunya
yang telanjang
dan tidak menutup diri
dengan topeng kemunafikan.
2024 - 2025”
―
Mengapa kau tanam mawar itu di pinggir jalan Kay?
Apakah sengaja,
agar semua orang bisa memungut
atau pura pura mencintainya?
Tapi bukankah kau tahu,
tak ada rasa kagum semurah itu?
Seperti semua harapan palsu
yang kau tabur di atas ranjangmu.
Bunga mawar merah jambu
yang mekar sejenak
sebelum layu dibakar waktu.
Masih banyak cinta
yang sesungguhnya tak kau mengerti.
Apakah cuma itu satu-satunya cara untuk membunuh kesendirian
dan rasa sepi?
Luka parut di dada dan jantung
yang perlahan hilang detaknya.
Sudah berapa lama
engkau merasa jemu
dengan rutinitas yang itu-itu juga.
Seperti pikiran dangkal
yang terus menghantui kita
dengan potongan kata dusta.
Apakah kesedihan semacam ini
yang ingin engkau abadikan?
Dari satu frame ke frame yang lain.
Dari satu video ke video berikutnya. Cuma untuk menampilkan ingatan
yang sudah kau hafal di luar kepala
dan senyum getir yang susah payah
kau sembunyikan dari dunia.
Atau barangkali,
itulah caramu untuk mengejek
dan mencemooh kami, karena
terlanjur terjebak dalam ritual
yang menghinakan ini.
Ritual memuja ego
dan menipu diri sendiri.
Sebab harus kami akui,
cuma engkau yang sesungguhnya
paling murni di antara kita.
Cuma engkau satu satunya
yang telanjang
dan tidak menutup diri
dengan topeng kemunafikan.
2024 - 2025”
―
“Jalang
Ada sekuntum mawar di dadamu
dan dusta di mulutmu.
Sesungguhnya,
Kau tak menggonggong
serupa anjing yang tolol.
Kau hanya tak mengindahkan hal lain, selain rasa laparku.
Kaugigit tulang
dari kedalamanku yang perih.
Mata yang tak peduli
dan hasrat untuk membunuh.
Gelegak darah ini
sama kejinya dengan tikam amarah.
Api yang kau sembunyikan
di balik mata pisau beringas.
Pada dadamu yang terbelah
jantungmu yang memerah.
Kejalangan yang kau tunjukkan
tanpa penyesalan dan rasa malu.
Lagak lagumu tak semerah gincu
yang kau kenakan malam itu.
Dan apakah itu...
secarik kain sewarna darah
yang tak mampu menutupi kemesumanmu dari dunia?
Dari dulu sekali,
Kau sudah bukan milikku lagi!
...
Kau sudah jadi milik semua orang.
Semua kata cinta
yang kau obral dengan murah.
Haram jadah yang terlahir
dari mimpi basah di siang bolong.
Mimpi tempatku
menghabiskan waktu.
Waktu dan seluruh kesia-siaan.
Waktu yang tak bernilai;
Onggokan sampah!
Sumpah serapah dan omong kosong.
Waktu yang membusuk
dalam pikiran semua orang.
Mereka yang tak lebih anjing
dari diriku sendiri.
Mereka yang penuh gairah menanti
saat tiba jam pertunjukan
dengan air liur menetes.
Mereka, yang menyulam
benang laba-laba itu
ke dalam pikiranmu.
Seutas rambut yang lebih tipis
dari harga diri dan kehormatan.
Nilai yang kau sendiri
Bahkan tak peduli.
Bodohnya lagi,
seperti yang selama ini terjadi...
Aku masih saja duduk terpaku
di depan layar menyesatkan itu
menunggu...
Merasa lebih, memiliki dirimu
Lebih dari siapa pun, Kay!
2024 - 2025”
―
Ada sekuntum mawar di dadamu
dan dusta di mulutmu.
Sesungguhnya,
Kau tak menggonggong
serupa anjing yang tolol.
Kau hanya tak mengindahkan hal lain, selain rasa laparku.
Kaugigit tulang
dari kedalamanku yang perih.
Mata yang tak peduli
dan hasrat untuk membunuh.
Gelegak darah ini
sama kejinya dengan tikam amarah.
Api yang kau sembunyikan
di balik mata pisau beringas.
Pada dadamu yang terbelah
jantungmu yang memerah.
Kejalangan yang kau tunjukkan
tanpa penyesalan dan rasa malu.
Lagak lagumu tak semerah gincu
yang kau kenakan malam itu.
Dan apakah itu...
secarik kain sewarna darah
yang tak mampu menutupi kemesumanmu dari dunia?
Dari dulu sekali,
Kau sudah bukan milikku lagi!
...
Kau sudah jadi milik semua orang.
Semua kata cinta
yang kau obral dengan murah.
Haram jadah yang terlahir
dari mimpi basah di siang bolong.
Mimpi tempatku
menghabiskan waktu.
Waktu dan seluruh kesia-siaan.
Waktu yang tak bernilai;
Onggokan sampah!
Sumpah serapah dan omong kosong.
Waktu yang membusuk
dalam pikiran semua orang.
Mereka yang tak lebih anjing
dari diriku sendiri.
Mereka yang penuh gairah menanti
saat tiba jam pertunjukan
dengan air liur menetes.
Mereka, yang menyulam
benang laba-laba itu
ke dalam pikiranmu.
Seutas rambut yang lebih tipis
dari harga diri dan kehormatan.
Nilai yang kau sendiri
Bahkan tak peduli.
Bodohnya lagi,
seperti yang selama ini terjadi...
Aku masih saja duduk terpaku
di depan layar menyesatkan itu
menunggu...
Merasa lebih, memiliki dirimu
Lebih dari siapa pun, Kay!
2024 - 2025”
―
“Adakah Kau Temukan Separuh Ilusi dalam 7 Bait Sajakku Ini?
(Transcendence–Existentialist–Mystical–Bartesian)
/1/
Di ambang cahaya
yang gagal menemukan dirinya,
aku melihat riak kuning
yang tampak seperti sisa doa
yang kehilangan tuannya.
Seekor angsa liar melintas
tanpa tahu apakah ia burung
atau hanya gema dari sesuatu
yang tak pernah selesai
menjadi makna.
/2/
Jangan percayai hening
yang menggantung
di dahan dadap itu.
Ia bukan sunyi,
melainkan mata ketiga dari kesadaran
yang menatap balik pada penafsirnya.
Seekor burung hantu buta
menjadi penanda yang terlantar—
simbol yang dibuang dari
mulut bahasa.
/3/
Aku bersaksi tentang rusa totol indigo
yang lahir dari tawa kanak-kanak,
bukan sebagai hewan,
tetapi sebagai fragmen kosmik
yang melampaui tubuh, sejarah,
dan dilatasi waktu.
Rumput kelabu bening di kakinya
mengajarkan bahwa setiap permainan
adalah ritual kecil dari keberadaan
yang mencari arti sendiri
tanpa pernah menemukan.
/4/
Karena sajakmulah,
aku melihat hujan yang sempat ragu turun ke dalam cangkir para sufi—
bukan sebagai air,
melainkan sebagai niat kata
yang gagal menjelma doa.
Di antara lipatan sorban putih itu
ada jeda panjang
tempat Tuhan pernah sembunyi
untuk melupakan nama-Nya sendiri.
/5/
Di pelupuk matamu
kutemukan bilah luka yang tak tunduk
pada bahasa mana pun.
Heran luruh menjadi serpihan kaca,
mengiris senyum para penjaja cinta.
Barangkali itu bukan kesedihan,
melainkan alfabet purba
yang kehilangan suaranya
sebelum sempat menjadi kata.
/6/
Ada selaput tipis takjub
yang tak pernah disentuh
oleh jari Nizhami
atau siapa pun yang mencoba menafsirkan asmara.
Ia bukan cinta,
melainkan bayangan semu—
penanda yang tersesat
di lorong gelap kesadaran
yang menolak direstorasi.
/7/
Langit keruh kelabu
tampak jenuh oleh seluruh tangisanku,
tangis yang bernaung
di ceruk terdalam jantung kita
seperti embun yang takut menjadi air.
Barangkali memang begitu cara ilusi bekerja:
menyamar sebagai kesunyian
saat dahaga merayap jauh
ke gurun paling sunyi
di dalam diri.
November 2025”
―
(Transcendence–Existentialist–Mystical–Bartesian)
/1/
Di ambang cahaya
yang gagal menemukan dirinya,
aku melihat riak kuning
yang tampak seperti sisa doa
yang kehilangan tuannya.
Seekor angsa liar melintas
tanpa tahu apakah ia burung
atau hanya gema dari sesuatu
yang tak pernah selesai
menjadi makna.
/2/
Jangan percayai hening
yang menggantung
di dahan dadap itu.
Ia bukan sunyi,
melainkan mata ketiga dari kesadaran
yang menatap balik pada penafsirnya.
Seekor burung hantu buta
menjadi penanda yang terlantar—
simbol yang dibuang dari
mulut bahasa.
/3/
Aku bersaksi tentang rusa totol indigo
yang lahir dari tawa kanak-kanak,
bukan sebagai hewan,
tetapi sebagai fragmen kosmik
yang melampaui tubuh, sejarah,
dan dilatasi waktu.
Rumput kelabu bening di kakinya
mengajarkan bahwa setiap permainan
adalah ritual kecil dari keberadaan
yang mencari arti sendiri
tanpa pernah menemukan.
/4/
Karena sajakmulah,
aku melihat hujan yang sempat ragu turun ke dalam cangkir para sufi—
bukan sebagai air,
melainkan sebagai niat kata
yang gagal menjelma doa.
Di antara lipatan sorban putih itu
ada jeda panjang
tempat Tuhan pernah sembunyi
untuk melupakan nama-Nya sendiri.
/5/
Di pelupuk matamu
kutemukan bilah luka yang tak tunduk
pada bahasa mana pun.
Heran luruh menjadi serpihan kaca,
mengiris senyum para penjaja cinta.
Barangkali itu bukan kesedihan,
melainkan alfabet purba
yang kehilangan suaranya
sebelum sempat menjadi kata.
/6/
Ada selaput tipis takjub
yang tak pernah disentuh
oleh jari Nizhami
atau siapa pun yang mencoba menafsirkan asmara.
Ia bukan cinta,
melainkan bayangan semu—
penanda yang tersesat
di lorong gelap kesadaran
yang menolak direstorasi.
/7/
Langit keruh kelabu
tampak jenuh oleh seluruh tangisanku,
tangis yang bernaung
di ceruk terdalam jantung kita
seperti embun yang takut menjadi air.
Barangkali memang begitu cara ilusi bekerja:
menyamar sebagai kesunyian
saat dahaga merayap jauh
ke gurun paling sunyi
di dalam diri.
November 2025”
―
“JENAWI
I. Kincah Belanga
Di antara gemeretak lentik kayu api gamang tualang di atas tempaan besi gabak mata di balik tungku pembakaran dan bayang kuasi samudra air mata teraduk sempurna dalam kincah belanga. Adakah sebuah perasaan lain yang mungkin, selain cinta? Jerih sebatang besi atau mungkin perih kersani yang niscaya beradu di antara hati dan jantung maut, saat keduanya bertaut?
Duhai pemutus rantap, jangan sekali-kali mata ditentang nyata, sebab kena tuahnya mati Belanda Duhai engkau penetak leher lembu betina. Akankah kaubawa keping secuil hatiku ke mana pun engkau pergi berkelana? Seperti kerat jangat dalam bungkus selampai putih Pada tajam mulut atau garit luka dingin parasmu yang hadir dalam ruap mimpi dan balau igauanku. Engkau mungkin saja sekadar fatamorgana di mana aku mengada dalam tiap tetes bening air mata rembulan, tempat di mana dulu aku melabuhkan segala kerinduan.”
―
I. Kincah Belanga
Di antara gemeretak lentik kayu api gamang tualang di atas tempaan besi gabak mata di balik tungku pembakaran dan bayang kuasi samudra air mata teraduk sempurna dalam kincah belanga. Adakah sebuah perasaan lain yang mungkin, selain cinta? Jerih sebatang besi atau mungkin perih kersani yang niscaya beradu di antara hati dan jantung maut, saat keduanya bertaut?
Duhai pemutus rantap, jangan sekali-kali mata ditentang nyata, sebab kena tuahnya mati Belanda Duhai engkau penetak leher lembu betina. Akankah kaubawa keping secuil hatiku ke mana pun engkau pergi berkelana? Seperti kerat jangat dalam bungkus selampai putih Pada tajam mulut atau garit luka dingin parasmu yang hadir dalam ruap mimpi dan balau igauanku. Engkau mungkin saja sekadar fatamorgana di mana aku mengada dalam tiap tetes bening air mata rembulan, tempat di mana dulu aku melabuhkan segala kerinduan.”
―
“REKONSTRUKSI ATHALIA DARI 6 ABSTRAKSI
3. RU ANG PE CAH A THA LIA
(Abstraksi Reruntuhan)
Lorong itu masih berdebu.
Seperti paru-paru gedung tua
yang tersedak nama kita.
Sebuah pintu terbuka.
Engselnya berdecit,
menyebutmu dalam bahasa besi yang menumpuk dirinya sendiri dalam reruntuhan.
Di lantai:
serpihan gelas,
kilat kecil memantul
lampu neon yang mendengung.
Doa yang dipotong
oleh sengatan listrik.
Athalia,
kau berjalan melewati hidupku
seperti bayangan di CCTV—
tampak,
hilang,
tampak lagi,
gemetar
tanpa suara.
Aku mencoba menyentuhmu
melalui pantulan kaca,
tapi kaca itu pecah
menjadi kota yang lain:
gedung-gedung runtuh,
jam retak,
tangga darurat,
kabel listrik menjuntai
seperti urat-urat hujan
yang kelelahan.
Aku memungut serpihan
dengan tangan telanjang.
Jariku berdarah,
mengalir perlahan
ke arah retakan di lantai,
menyusuri jalur seperti
peta yang dibuat oleh tubuh
yang lupa program aplikasinya.
Di atas meja,
ada catatan tanpa huruf.
Seperti kalimat
yang menolak menjadi suara.
Di udara,
bau logam,
bau kehilangan yang tak punya suhu
tak punya
kenangan.
Kau pernah bening,
tapi aku terlalu percaya
pada transparansi benda-benda.
Kau menjadi pecahan pertama
yang sungguh mengerti
bagaimana luka tinggal
tanpa perlu menetap.
Aku ingin marah,
tapi amarah itu
hanya berdiri sebagai
kursi kosong
menghadap jendela
yang tak bisa dibuka.
Malam menempel di kulit,
seperti plastik hitam
yang membungkus ingatan.
Aku menggeser bayangmu dari cermin ke cermin—
namun cermin itu
malah memantulkan
diriku yang sudah retak
lebih dulu.
Kita berdua,
dua mesin kecil
yang kehilangan suara dinamo.
Tak bisa pergi,
tak bisa tinggal.
Hanya berdengung
di dalam ruangan
yang menua bersama debu.
Athalia,
jika ada yang masih hidup dari kita,
mungkin itu hanya denting terakhir
serpihan gelas
yang tak sempat memilih
ke mana ia ingin jatuh.
4. DARAH YANG TAK MAU JADI KENANGAN
(Abstraksi Eksistensial)
ada getir yang tak mau tua
mengendap di rongga dada
seperti luka yang menolak mati.
kau—
gelas bening yang lama kusembunyikan
di balik kelopak
mata.
ketika pecah,
suara retaknya menyambar malam:
mengiris lebih dulu sebelum sempat kutangisi.
aku tak meminta ampun.
tak juga mencari siapa salah.
yang kutahu:
tanganku sendiri gemetar
menjatuhkan harapan
yang kutimang seperti bayi yang kehausan.
dan darah itu—
ah, darah yang terus memanggil namamu
dari lorong gelap yang tak selesai kubakar.
aku marah.
aku diam.
dua hewan liar
saling menggigit.
jika kau datang lagi,
kupikir aku tetap akan meraihmu
meski tahu kau dapat mematahkanku
sekali lagi.
aku sudah lama belajar:
beberapa luka yang
tak bisa dikubur.
mereka hidup seperti bara— kecil, malu-malu,
tapi cukup untuk menghanguskan
satu kehidupan.
aku berdiri di sini
dengan dada yang robek
tanpa janji, tanpa doa—
hanya sedikit keberanian
untuk menyebut luka ini
dengan namanya sendiri.
dan itu cukup.
untuk malam ini.”
―
3. RU ANG PE CAH A THA LIA
(Abstraksi Reruntuhan)
Lorong itu masih berdebu.
Seperti paru-paru gedung tua
yang tersedak nama kita.
Sebuah pintu terbuka.
Engselnya berdecit,
menyebutmu dalam bahasa besi yang menumpuk dirinya sendiri dalam reruntuhan.
Di lantai:
serpihan gelas,
kilat kecil memantul
lampu neon yang mendengung.
Doa yang dipotong
oleh sengatan listrik.
Athalia,
kau berjalan melewati hidupku
seperti bayangan di CCTV—
tampak,
hilang,
tampak lagi,
gemetar
tanpa suara.
Aku mencoba menyentuhmu
melalui pantulan kaca,
tapi kaca itu pecah
menjadi kota yang lain:
gedung-gedung runtuh,
jam retak,
tangga darurat,
kabel listrik menjuntai
seperti urat-urat hujan
yang kelelahan.
Aku memungut serpihan
dengan tangan telanjang.
Jariku berdarah,
mengalir perlahan
ke arah retakan di lantai,
menyusuri jalur seperti
peta yang dibuat oleh tubuh
yang lupa program aplikasinya.
Di atas meja,
ada catatan tanpa huruf.
Seperti kalimat
yang menolak menjadi suara.
Di udara,
bau logam,
bau kehilangan yang tak punya suhu
tak punya
kenangan.
Kau pernah bening,
tapi aku terlalu percaya
pada transparansi benda-benda.
Kau menjadi pecahan pertama
yang sungguh mengerti
bagaimana luka tinggal
tanpa perlu menetap.
Aku ingin marah,
tapi amarah itu
hanya berdiri sebagai
kursi kosong
menghadap jendela
yang tak bisa dibuka.
Malam menempel di kulit,
seperti plastik hitam
yang membungkus ingatan.
Aku menggeser bayangmu dari cermin ke cermin—
namun cermin itu
malah memantulkan
diriku yang sudah retak
lebih dulu.
Kita berdua,
dua mesin kecil
yang kehilangan suara dinamo.
Tak bisa pergi,
tak bisa tinggal.
Hanya berdengung
di dalam ruangan
yang menua bersama debu.
Athalia,
jika ada yang masih hidup dari kita,
mungkin itu hanya denting terakhir
serpihan gelas
yang tak sempat memilih
ke mana ia ingin jatuh.
4. DARAH YANG TAK MAU JADI KENANGAN
(Abstraksi Eksistensial)
ada getir yang tak mau tua
mengendap di rongga dada
seperti luka yang menolak mati.
kau—
gelas bening yang lama kusembunyikan
di balik kelopak
mata.
ketika pecah,
suara retaknya menyambar malam:
mengiris lebih dulu sebelum sempat kutangisi.
aku tak meminta ampun.
tak juga mencari siapa salah.
yang kutahu:
tanganku sendiri gemetar
menjatuhkan harapan
yang kutimang seperti bayi yang kehausan.
dan darah itu—
ah, darah yang terus memanggil namamu
dari lorong gelap yang tak selesai kubakar.
aku marah.
aku diam.
dua hewan liar
saling menggigit.
jika kau datang lagi,
kupikir aku tetap akan meraihmu
meski tahu kau dapat mematahkanku
sekali lagi.
aku sudah lama belajar:
beberapa luka yang
tak bisa dikubur.
mereka hidup seperti bara— kecil, malu-malu,
tapi cukup untuk menghanguskan
satu kehidupan.
aku berdiri di sini
dengan dada yang robek
tanpa janji, tanpa doa—
hanya sedikit keberanian
untuk menyebut luka ini
dengan namanya sendiri.
dan itu cukup.
untuk malam ini.”
―
“PANGKUR: Tubuh yang Ditanggalkan Cuaca
Langit pecah.
Bumi menerima sisanya: mayat cuaca yang membeku di atas punggung manusia.
Air turun tanpa ampun—bukan hujan,
melainkan penderitaan yang kehilangan tempat berpijak.
Tubuh-tubuh tergeletak seperti huruf-huruf patah
yang tak sanggup lagi membentuk doa.
Di sela retakan tanah,
ada bisik yang mungkin hembusan terakhir napas Tuhan yang kelelahan,
atau hanya suara angin yang menolak membawa nama-nama kita.
Air melesat dari segala penjuru
seperti pemburu mengejar mangsa,
melumpuhkan harapan, ingatan,
kemanusiaan.
Ia turun sebagai fenomena, bukan pesan atau teguran:
sebagai kadar yang tak tertanggungkan.
Air mata membeku seperti tulang tua.
Jalan tenggelam dalam dendam.
Setiap langkah memantulkan gema
dari sesuatu yang lama mati,
tapi belum selesai dikuburkan:
hutan ingatan.
Rimbun cahaya bergulung
seperti batang kayu terpenggal
di bawah cahaya yang dingin.
Angka mengambang ratusan
jumlahnya
serupa wajah-wajah saling melewati
tanpa saling mengenal,
seolah mata mereka terbuat dari beling
yang baru saja diangkat dari perut api.
Ribuan gergaji jatuh di tanah.
Tak ada suara.
Hanya getarnya yang merayap di pori-pori bumi,
menyentuh dengkul manusia
yang tiba-tiba ingin runtuh.
Kata-kata saling menikam di layar kaca
tanpa niat, tanpa dendam pribadi.
Hanya refleks dari kelelahan yang terlalu tua,
terlalu lama menunggu belas kasihan
dari langit yang kini berlubang
sebesar telapak tangan raksasa.
Di mata kita, luka mengeras seperti kerak besi.
Di dada kita, sesak berkibar seperti bendera yang setengah ditelan lumpur.
Manusia berjalan seperti bangkai
yang belum selesai dikremasi,
menyisakan bau asin kemanusiaan
yang remuk.
Segala keegoisan berhamburan di jalan:
orang-orang saling mendahului, saling memotong napas,
berebut udara seakan oksigen hanya untuk satu dada.
Kedunguan merayap di ubun-ubun
seperti jamur hitam yang tumbuh pada bangkai pohon tumbang.
Ada bayi diangkat dari air—
suara tangisnya pendek, hampir mirip batuk rejan.
Ada ibu yang memeluk nama anaknya
tanpa bisa lagi menemukan tubuhnya.
Di kejauhan,
seekor anjing berdiri di atas atap rumah—
matanya merah, bukan karena marah,
tapi karena dunia telah menolak mengenangnya.
Mawar liar terhanyut di selokan:
keindahan yang diinjak tanpa sengaja, tanpa rasa.
Air melahap kelopaknya
secepat manusia melupakan peristiwa.
Bau bangkai menyelinap ke bulu mata.
Pekat lumpur bercampur asin keringat, menempel seperti dendam tua
yang tak pernah berhasil ditebus
oleh siapa pun.
Meraba denyut lirih
paru-paru bumi yang tersengal
seperti ingin berhenti bernapas.
Baru menyadari—
yang tenggelam bukan hanya tubuh,
melainkan sisa kesadaran yang dulu pernah menyebut dirinya manusia.
Desember 2025”
―
Langit pecah.
Bumi menerima sisanya: mayat cuaca yang membeku di atas punggung manusia.
Air turun tanpa ampun—bukan hujan,
melainkan penderitaan yang kehilangan tempat berpijak.
Tubuh-tubuh tergeletak seperti huruf-huruf patah
yang tak sanggup lagi membentuk doa.
Di sela retakan tanah,
ada bisik yang mungkin hembusan terakhir napas Tuhan yang kelelahan,
atau hanya suara angin yang menolak membawa nama-nama kita.
Air melesat dari segala penjuru
seperti pemburu mengejar mangsa,
melumpuhkan harapan, ingatan,
kemanusiaan.
Ia turun sebagai fenomena, bukan pesan atau teguran:
sebagai kadar yang tak tertanggungkan.
Air mata membeku seperti tulang tua.
Jalan tenggelam dalam dendam.
Setiap langkah memantulkan gema
dari sesuatu yang lama mati,
tapi belum selesai dikuburkan:
hutan ingatan.
Rimbun cahaya bergulung
seperti batang kayu terpenggal
di bawah cahaya yang dingin.
Angka mengambang ratusan
jumlahnya
serupa wajah-wajah saling melewati
tanpa saling mengenal,
seolah mata mereka terbuat dari beling
yang baru saja diangkat dari perut api.
Ribuan gergaji jatuh di tanah.
Tak ada suara.
Hanya getarnya yang merayap di pori-pori bumi,
menyentuh dengkul manusia
yang tiba-tiba ingin runtuh.
Kata-kata saling menikam di layar kaca
tanpa niat, tanpa dendam pribadi.
Hanya refleks dari kelelahan yang terlalu tua,
terlalu lama menunggu belas kasihan
dari langit yang kini berlubang
sebesar telapak tangan raksasa.
Di mata kita, luka mengeras seperti kerak besi.
Di dada kita, sesak berkibar seperti bendera yang setengah ditelan lumpur.
Manusia berjalan seperti bangkai
yang belum selesai dikremasi,
menyisakan bau asin kemanusiaan
yang remuk.
Segala keegoisan berhamburan di jalan:
orang-orang saling mendahului, saling memotong napas,
berebut udara seakan oksigen hanya untuk satu dada.
Kedunguan merayap di ubun-ubun
seperti jamur hitam yang tumbuh pada bangkai pohon tumbang.
Ada bayi diangkat dari air—
suara tangisnya pendek, hampir mirip batuk rejan.
Ada ibu yang memeluk nama anaknya
tanpa bisa lagi menemukan tubuhnya.
Di kejauhan,
seekor anjing berdiri di atas atap rumah—
matanya merah, bukan karena marah,
tapi karena dunia telah menolak mengenangnya.
Mawar liar terhanyut di selokan:
keindahan yang diinjak tanpa sengaja, tanpa rasa.
Air melahap kelopaknya
secepat manusia melupakan peristiwa.
Bau bangkai menyelinap ke bulu mata.
Pekat lumpur bercampur asin keringat, menempel seperti dendam tua
yang tak pernah berhasil ditebus
oleh siapa pun.
Meraba denyut lirih
paru-paru bumi yang tersengal
seperti ingin berhenti bernapas.
Baru menyadari—
yang tenggelam bukan hanya tubuh,
melainkan sisa kesadaran yang dulu pernah menyebut dirinya manusia.
Desember 2025”
―
All Quotes
|
My Quotes
|
Add A Quote
Browse By Tag
- Love Quotes 102k
- Life Quotes 80k
- Inspirational Quotes 76.5k
- Humor Quotes 44.5k
- Philosophy Quotes 31k
- Inspirational Quotes Quotes 29k
- God Quotes 27k
- Truth Quotes 25k
- Wisdom Quotes 25k
- Romance Quotes 24.5k
- Poetry Quotes 23.5k
- Life Lessons Quotes 23k
- Quotes Quotes 21k
- Death Quotes 20.5k
- Happiness Quotes 19k
- Hope Quotes 18.5k
- Faith Quotes 18.5k
- Inspiration Quotes 17.5k
- Spirituality Quotes 16k
- Relationships Quotes 16k
- Life Quotes Quotes 15.5k
- Motivational Quotes 15.5k
- Religion Quotes 15.5k
- Love Quotes Quotes 15.5k
- Writing Quotes 15k
- Success Quotes 14k
- Travel Quotes 13.5k
- Motivation Quotes 13.5k
- Time Quotes 13k
- Motivational Quotes Quotes 12.5k
