The Question of Red Quotes

Rate this book
Clear rating
The Question of Red The Question of Red by Laksmi Pamuntjak
4,067 ratings, 3.83 average rating, 679 reviews
Open Preview
The Question of Red Quotes Showing 1-30 of 52
“Selalu ada yang membuat terlena dan tak berdaya pada hujan, pada rintik dan aromanya, pada bunyi dan melankolinya, pada caranya yang pelan sekaligus brutal dalam memetik kenangan yang tak diinginkan”
Laksmi Pamuntjak, Amba
“Laut seperti ibu. Dalam dan menunggu.”
Laksmi Pamuntjak, Amba
“Ketika bicara menunggu, itu bukan tentang berapa jam, hari dan bulan.
Kita bicara tentang titik di mana kita akhirnya memutuskan untuk percaya”
Laksmi Pamuntjak, Amba
“Aneh, memang: selalu ada yang membuat terlena dan tak berdaya pada hujan, pada rintik dan aromanya, pada bunyi dan melankolinya, pada caranya yang pelan sekaligus brutal dalam memetik kenangan yang tak diinginkan.”
Laksmi Pamuntjak, Amba
“Kesetiaan selalu dikhianati, atau ia menanti selamanya untuk sesuatu yang tak pernah dimikili”
Laksmi Pamuntjak, Amba
“Perempuan jangan selalu merasa dirinya harus mengorbankan dirinya kepada laki-laki dengan gampang”
Laksmi Pamuntjak, Amba
“Apakah yang dikatakan oleh kesedihan kepada matamu, yang membatalkan semua yang indah dari kehidupan?”
Laksmi Pamuntjak, Amba
“Perjalanan: melatih diri untuk tetap menjaga jarak seraya berbagi begitu banyak.”
Laksmi Pamuntjak, Amba
“Dalam hidup ada saat-saat ketika masa depan dengan cepat diucapkan, justru karena yang sepenuhnya berkuasa adalah masa kini”
Laksmi Pamuntjak, Amba
“Mendidik diri untuk menjaga jarak dengan orang lain, dan juga untuk menjaga jarak dengan kata-kata yang sewaktu-waktu bisa berkhianat.”
Laksmi Pamuntjak, Amba
“Seorang lelaki harus dibikin jatuh cinta selamanya pada seorang perempuan agar ia tak pergi”
Laksmi Pamuntjak, Amba
“Belajar untuk tidak mengumbar kata, karena begitu sesuatu diikrarkan, kita terikat, dan tak bisa menariknya kembali.”
Laksmi Pamuntjak, Amba
“Perjalanan membawa hal - hal baru yang membuat kita bijaksana, tapi selalu ada yang tetap pada kita sejak sebelum berangkat”
Laksmi Pamuntjak, Amba
“Ketika bicara menunggu, itu bukan tentang berapa jam, hari, dan bulan. Kita bicara tentang titik di mana kita akhirnya memutuskan untuk percaya.”
Laksmi Pamuntjak, Amba
“Nggak ada yang lebih menyedihkan di dunia ini, daripada permintaan maaf yang nggak pada tempatnya.”
Laksmi Pamuntjak, Amba
“Kesetiaan selalu dikhianati, atau ia menanti selamanya untuk sesuatu yang tak pernah dimiliki”
Laksmi Pamuntjak, Amba
“Belum lama aku mengenal dia, tapi ia hidup dan tumbuh di dalam diriku, begitu rupa hingga ia memanjangkan bayang-bayangku kemanapun mataku memandang. Ia telah jadi kewajibanku, nasibku.”
Laksmi Pamuntjak, Amba
tags: love
“I know something about responsibility. Just don’t ask me about politics.”
Laksmi Pamuntjak, The Question of Red
“Aku tak tahu mengapa hari-hari ini aku begitu sering tersentuh. Oleh pohon, oleh, burung, air sungai. Entah mengapa, hal-hal kecil yang memikat yang pernah diajarkan kepada kita, ketika kita mendekat kepada mereka, mereka tampak begitu besar, nyaris suci. Memang melo-dramatis rasanya mengatakan ini semua tetapi aku tak mengada-ada. Kami tahu aku bukan orang yang religius; dulu aku malah suka menegaskan diri bahwa aku tak beragama justru agar para sejawatku tak mengusikku. Tetapi akhir-akhir ini aku merasa, berteduh dalam kesendirian juga pengalaman religius.”
Laksmi Pamuntjak, The Question of Red
“But all stories are made up,” I offered. “All telling is retelling, and therefore it is fiction. Everybody knows that.”
Laksmi Pamuntjak, The Question of Red
“... kata itu bisa membunuh ... Bertahun-tahun saya hidup dikelilingi sepotong kata, sepatah sebutan yang membagi manusia dan menandai mana yang harus disingkirkan dan mana yang tidak. ... bahasa adalah senjata para algojo. Tetapi mungkin saya salah. Mungkin karena para algojo harus ada bersama kata-kata sebagai bagian dari kebencian.”
Laksmi Pamuntjak, The Question of Red
“Kesetiaan selalu dikhianati, atau ia menanti selamanya untuk sesuatu yang tiak penah dimiliki.”
Laksmi Pamuntjak, The Question of Red
“His intellect might be a weapon, his worldliness his shield.”
Laksmi Pamuntjak, The Question of Red
“Does Bhisma care about women and their fate? Do all women have to be fierce warriors and die like men, as Rosa Luxemburg did, to earn his respect? Does he care about the mountains, behind which every day the sun rises and sets, about life on the side of the road, about the color of twilight in certain clear afternoons, so beautiful it is almost unendurable?”
Laksmi Pamuntjak, The Question of Red
“She felt like that worst thing—a victim.”
Laksmi Pamuntjak, The Question of Red
“She would stay like that, quiet and smiling, while her husband patiently, bigheartedly, closed the discussion, as men of wisdom often did with their wives.”
Laksmi Pamuntjak, The Question of Red
“Nuniek knew only too well when to stop, when to heed her husband’s change of voice. She knew that you had to feel your way through a marriage, not unlike politics. Just when you thought your relationship with your husband was firmly in place, the tables began, ever so slightly and unfathomably, to turn.”
Laksmi Pamuntjak, The Question of Red
“Families and neighbors started to avoid, rebuke, or repel each other, just because they didn’t share the same political beliefs or choose the same party.”
Laksmi Pamuntjak, The Question of Red
“Tertawa bisa menunda kesangsian. Itulah efek narkotik seni. Aku akan hirup habis-habisan karena besok semuanya akan punah dan kita semua akan merasa hampa.”
Laksmi Pamuntjak, The Question of Red
tags: laugh
“Hari ini kau kembali dalam diriku seperti bintang di langit itu —sesuatu yang ada di antara kerdip dan hilang, yang selalu muncul pada titik di mana lupa menyiapkan kekosongan.
Kubayangkan kau biru, mutiara, menangis.”
Laksmi Pamuntjak, The Question of Red

« previous 1