Opini yang disampaikan di sini adalah pandangan pribadi. Saya menyadari bahwa beberapa opini mungkin tidak populer atau bertentangan dengan pandangan umum. Saya mendorong pembaca untuk mempertimbangkan berbagai sudut pandang dan melakukan penelitian lebih lanjut sebelum mengambil kesimpulan. Semua pernyataan dan argumen disampaikan dengan maksud dan tidak dimaksudkan untuk menyinggung atau merendahkan pihak mana pun.
------------------------------------------------------------
"Sikap Re yang terbuka juga membuatku tidak sungkan untuk berterus terang bahwa sebagian kisah hidupnya akan menjadi bahan skripsiku. Buatku, Re bukan lagi sekedar objek penelitian ataupun bahan tulisan tabloid, seperti para perempuan malam yang kutemui sebelumnya, Re
sudah menjadi sahabatku, buku kehidupan bagiku."
Saya seolah-olah dipertemukan dengan seorang penulis yang terpesona oleh "sikap terbuka" Re, yang tampaknya telah mengubahnya dari sekadar objek penelitian menjadi sosok yang lebih manusiawi—seperti sahabat yang bisa diajak curhat. Namun, saya renungkan sejenak: apakah benar Re hanyalah "buku kehidupan" yang bisa dibaca sesuka hati, atau justru kita sedang menyaksikan transformasi Re menjadi karakter utama dalam skripsi yang agung?
Di satu sisi, penulis menyanjung Re, seolah-olah dia menemukan harta karun dalam lautan data. Di sisi lain, ada nuansa sinis di balik pujian itu—seolah-olah Re tak lebih dari plot twist dalam cerita skripsi yang membosankan. Bukankah menarik melihat bagaimana Re, yang dulunya hanya "bahan tulisan tabloid", kini diangkat derajatnya menjadi "sahabat"? Mungkin, ini adalah cara penulis untuk merasa lebih baik tentang eksploitasi yang dilakukannya, sambil memamerkan kepekaan yang sepertinya muncul dari sikap bersahabat yang dipaksakan.
Akhirnya, kalimat ini adalah cermin dari hubungan yang kompleks antara penulis dan objek penelitian, di mana keintiman disamarkan oleh ambisi akademis. Re, si "sahabat" yang hebat itu, sepertinya tidak lebih dari sekadar alat untuk meraih gelar. Dan di sinilah letak kejenakaan dari dunia akademis—di mana hubungan bisa terjalin, namun sering kali dengan agenda tersembunyi yang mencolok.
Citra perempuan—dalam hal ini, Re—ditampilkan dengan cara yang sangat sinis dan menyedihkan, seolah-olah dia hanyalah barang dagangan yang nilainya ditentukan oleh penampilan fisiknya. Saya melihat betapa absurdnya situasi ini. Re, yang seharusnya menjadi agen dalam hidupnya, kini hanya berfungsi sebagai pion dalam permainan yang lebih besar di mana dia tidak memiliki kendali. Pekerjaan yang ditawarkan padanya tidak hanya merendahkan, tetapi juga menunjukkan betapa rendahnya nilai yang diberikan kepada perempuan dalam konteks ini.
Dengan semua ini, bukan hanya menggambarkan ketidakadilan yang dialami perempuan, tetapi juga mengajak kita untuk merenungkan bagaimana masyarakat sering kali mengobjektifikasi perempuan dan mengecilkan peran serta nilai mereka. Re, dalam pandangan ini, adalah gambaran tragis dari perempuan yang terjebak dalam pusaran tuntutan dan stigma, di mana keindahan dan potensi ditentukan oleh orang lain, bukan oleh diri mereka sendiri.
Penulis berusaha menyampaikan pandangan yang bijak dengan nada yang sangat kontradiktif dan penuh ironi. Dia membuka dengan pernyataan tentang kemudahan berkompromi dengan kehidupan orang lain, seolah-olah itu adalah hal yang mulia dan terhormat. Namun, ketika menyangkut keluarga sendiri, serentak sikapnya berubah drastis—seolah-olah ada batasan yang tak terucapkan yang melindungi "kehormatan" keluarga.
Pernyataan seperti "Mereka mau jadi apa pun, terserah," diikuti dengan penegasan bahwa anak-anaknya tidak boleh memiliki pilihan yang sama, jelas menunjukkan keabnormalan dalam logika penulis. Di sini, penulis sangat pandai memilih kata-kata, menciptakan ilusi toleransi yang seolah-olah mengalir deras, tetapi sebenarnya hanya menutupi ketidakmampuan untuk menerima perbedaan dalam lingkup terdekat.
Kalimat-kalimat yang dia kutip dari seorang ayah yang "tega" menyiksa anaknya karena orientasi seksualnya menciptakan gambaran yang sangat tragis. Penulis seolah-olah berusaha menampilkan sosok ayah yang berkuasa dan tegas, tetapi di balik itu, saya melihat ketidakmatangan emosional dan kekurangan empati yang serius. "Saya lebih baik kehilangan satu anak," adalah ungkapan yang mengusik, mencerminkan betapa egoisnya seseorang dapat bersikap ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa cinta dan penerimaan seharusnya menjadi pondasi keluarga.
Apakah penulis benar-benar memahami konsep keluarga dan cinta tanpa syarat? Dia mungkin merasa berhak memberi penilaian terhadap orang lain, tetapi justru menunjukkan ketidakmampuan untuk melihat lebih jauh dari batasan yang dibuatnya sendiri. Di dunia yang seharusnya dipenuhi oleh penerimaan dan pengertian, penulis malah menciptakan dinding pemisah yang tebal antara "yang normal" dan "yang tidak" berdasarkan pandangannya yang sempit.
Akhirnya, kalimat ini bukan sekadar menceritakan kisah tentang ketidakadilan, tetapi juga menyoroti cara pikir yang kaku dan konvensional; di mana dia berusaha terlihat bijak tetapi justru terjebak dalam batasan yang dia buat sendiri.