Jump to ratings and reviews
Rate this book

Re: dan Perempuan

Rate this book
“Panggilaku: Re:!”

“Pekerjaanku pelacur!”

“Lebih tepatnya, pelacur lesbian!”

Pertemuan dengan Re:,sipelacur lesbian, mengubah jalan hidup Herman.

Semula, mahasiswa Kriminologi itu menganggap Re: sekadar objek

penelitian skripsinya. Namun, yang terjadi malah sebaliknya.

Kisah hidup Re: yang berliku menyeret Herman hingga jauh kedalam.

Herman terpaksa terlibat dalam sisiter gelap dunia pelacuran

yang bersimbah darah, dendam, dan air mata.

___

Dua puluh enam tahun setelah kematian Re:,

Melur kembali ketanah air dengan gelar PhD

tersandang di belakang namanya.

Sejumlah tanya ia bawa pulang:

Siapa sebenarnya ibu kandungnya?

Betulkah ibunya diperjualbelikan, dipaksa menjadi pelacur lesbian?

Apa penyebab kematian ibunya yang teramat tragi situ?

Herman menyambut kedatangan Melur dengan risau.

Haruskah rahasia yang ia pendam lebih dari seperempat abad itu diungkap?

Tidakkah hal itu akan memicu Melur untuk membalas dendam?

Mengapa buku kehidupan perempuan harus sarat seloka luka?

peREmpuan adalah sekuel novel RE:

yang diangkat dari kisah nyata.

330 pages, Paperback

Published April 1, 2021

316 people are currently reading
2269 people want to read

About the author

Maman Suherman

25 books132 followers
Maman Suherman lahir di Makassar, 10 November 1965. Menempuh beragam pendidikan, namun hanya lulus dari Jurusan Kriminologi, FISIP - UI. Bertumbuh sebagai penulis selama 15 tahun (1998-2003), dari reporter hingga menjadi pemimpin redaksi di Kelompok Kompas Gramedia. Ia pernah juga menjadi Direktur Produksi hingga Managing Director (2003-2011) di Biro Iklan & Rumah Produksi Avicom.

Penggagas Panasonic Gobel Awards ini memutuskan untuk tidak berkantor lagi, dan kini menjadi "pemulung kata-kata". Sempat menjadi presenter untuk acara di KompasTV, kini ia menjadi konsultan kreatif dan No Tulen acara 'Indonesia Lawak Club' di Trans7.

Re adalah buku keempatnya bersama penerbit KPG. Sebelumnya telah terbit Matahati (2012), Bokis 1: Kisah Gelap Dunia Seleb (2012), dan Bokis 2: Potret Para Pesohor (2013).

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
671 (40%)
4 stars
655 (39%)
3 stars
269 (16%)
2 stars
51 (3%)
1 star
19 (1%)
Displaying 1 - 30 of 374 reviews
Profile Image for Tefi.
79 reviews7 followers
August 29, 2024
dari buku ini aku belajar: JANGAN pernah percaya sama laki-laki yang menulis buku lesbian!!! soalnya yang ditulis JELEKKK anjir!!! gue hampir mau DNF cokk saking muaknya dan saking "apaan sih ini???"

gue kira dari buku ini gue bisa menyaksikan romansa lesbianisme yang dialami seorang pelacur lesbian (yang di buku ini bernama Re:—short for Rere), diceritakan dari sudut pandang Herman sang mahasiswa yang lagi skripsian. taunya KAGAK!! tau ga, akhirnya ni buku arah jalan ceritanya ke mana?

SPOILER ALERT 🚨🚨🚨

HERMAN JATUH CINTA AMA RE: ANYINGG DAN RE: JUGA JATUH CINTA SAMA HERMAN TP DIA UDAH KEBURU MATI DIBUNUH JADI DIA GABISA MENJALIN CINTA AMA HERMAN!!!?!?!??!

lu mau tau buku the biggest buku queerbait of the century??? YA BUKU INI ANJIR. gilaaa ga nyangka bahwa ujung-ujungnya Re:, si tokoh utama, malah dijadiin in love with a cishet man dari surat terakhir si Re: 🙂 tau sih, dia dipaksa jadi pelacur lesbian sama Mami Lani, itu bukan orientasi seksual Re:. tapi penulis seolah2 implying bahwa mau melakukan aksi lesbian sebegimanapun, ujung2nya si pelacur lesbian ini ternyata maunya ama gweh sang cishet men yang jadi supirnya itu 😋😋 (🤢🤮)

(di bawah ini udah cukup aman dari spoiler 👍🏻👍🏻)

ni buku kaga jelas anyingg isinya cuma throwing random infos about criminology here and there. di buku Re: mah random factsnya masih seru!! tapi pas di buku peREmpuan udah kagak anying, malah kesannya kayak unsolicited mansplaining & unsolicited opinion sepanjang buku 😒 (iya, ini adalah satu buku yang terdiri dari dua buku, makanya judulnya Re: dan peREmpuan; peREmpuan adalah sekuel dari Re:). perbedaan keseruan 2 buku ini wajar aja karena dua buku ini terpaut 7 tahun (Re: diterbitkan 2014, peREmpuan diterbitkan 2021). justru menurutku Re: diselesain aja, gausah sok-sokan dibikin sekuel. udah perfect ending kok itu. ngapain bikin sekuel kalo sekuel tsb isinya cuma untuk shows off random opinions dan random facts (yang sebenernya unnecessary untuk jalan cerita) here and there?

oiyah sebelumnya SHOUT OUT TO RERE (Re:) FOR BEING THE STRONGEST WOMAN and i'm sorry you have to go through all that pain girl, you didn't deserve any of that 😔😔

di buku ini tuh si penulis kebanyakan naro potongan2 berita atau fakta kriminologi atau potongan ceramah dengan unsur keislaman atau pendapat pribadi dirinya. penulis juga memaparkan wawancara yang dulu dilakukan bersama a b c, lalu pendapat dia terkait jawaban dari orang yang dia wawancarai. aku gasuka, bukannya fokus ke jalan cerita, dengan si penulis naro hal2 random di luar jalan cerita tsb that just shows that si penulis ini mau bragging, entah dengan pengetahuannya ttg kriminologi atau pelacuran atau bragging tentang moral compass-nya dia. terus the ceramah was sooo unnecessary... mungkin bagi beberapa orang tidak terlihat seperti ceramah ya? tapi buat aku iya. penulis mencoba shoving his moral compass up to the reader's ass throughout the book. as if si penulis merasa bersalah pernah nulis buku tentang pelacur (buku Re:) sehingga dia mencoba bikin buku lanjutan with much less perpelacuran (buku peREmpuan).

these random facts and opinion bikin buku ini terlihat seperti "extended essays yang dibalut dengan fiksi". bener-bener keliatan bahwa penulis ini adalah jurnalis, bukan penulis fiksi. soalnya fiksinya pun terlihat seperti tulisan jurnalis banget. cara penulis membawa narasi, cara penulis revealing hal2 mengejutkam di buku ini tidak terlihat seperti penulis yang biasa menulis fiksi. dan di buku ini kebanyakan detail unnecessary-nya. kayak tbtb penulis nyebutin nama tukang bersihin makam Re: dan nama warung tempat si pembersih makam tsb sering nongkrong. padahal si Bang Nasir ini cuma muncul di 2 halaman dari 327 halaman buku. sebenarnya bagus sih, mungkin tujuannya untuk memanusiakan manusia dengan menyebut nama mereka. tapi kadang kerasa icky aja, kayak orang yang ga biasa nulis: semua-mua hal disebutin, gabisa ngefilter mana yang perlu ditulis di buku dan mana yang emgga.

hal yang paling aku ga suka dari percobaan si penulis shoving up his moral compass: masa dia bilang gini coba, di halaman 167–168:

Kita memang bisa dengan mudah "berkompromi" dengan apa yang dialami orang lain. Tetapi tidak untuk keluarga sendiri. "Mereka mau jadi apa pun, terserah. Pelacur, lesbian, gay, biseks, transseksual, itu urusan mereka. Mereka bebas menentukan pilihan hidup mereka. Tetapi tidak untuk anak-anak saya. Mereka tidak boleh seperti itu," kerap kudengar kalimat seperti ini. "Saya lebih baik kehilangan satu anak, daripada mereka seperti itu," ini juga pernah kudengar dari seorang ayah yang tega menyiksa bahkan mengusir anaknya dari rumah, karena anaknya berorientasi seksual sejenis.
...
Aku pun..., aku pun tak ingin anak-anakku mengalami hal yang sama.
...
Munafikkah aku? Bigotkah aku, atau apapun sebutannya? Aku bisa menulis puisi luka orang lain. Tapi tak kuasa mengeja kara kehilangan untuk keluarga sendiri.



tanggapan sy saat membaca hal tsb: 🙂🙂🙂


the only thing i like about this book adalah aku jadi belajar istilah-istilah lesbian jaman dulu kayak lines, kantil, sentul. sekarang itu semua udah ga dipake lagi, tergantikan dengan istilah masc, femme, butch. so it's nice knowing all those old terms. aku juga jadi tau bahwa spektrum seksualitas itu digolongkan jadi 7 gradasi pada tahun 1953 oleh Alfred C Kinsley. aku belum pernah baca hal ini so it's nice knowing about it. (komentar pribadiku: tahun 1953 aja, ilmuwan di belahan dunia lain sudah tau bahwa seksualitas adalah sebuah spektrum. lah di negara berinisial I ini, homoseksualitas masih dianggap sebagai sebuah penyakit 😀🙃)

di buku ini juga banyak typo yang mengganggu, terutama penggunaan di- sebagai kata depan dan sebagai imbuhan. ada juga nama-nama yang salah sebut atau salah ketik. gimana sih editornya??? padahal yang aku baca ini udah cetakan KEDELAPAN anjirr....

akhir kata: this book would've been good kalau si penulis memutuskan untuk berhenti di Re: dan tidak melanjutkan menulis sekuelnya. peREmpuan ruins Re: for me.
Profile Image for Nawala Patra.
74 reviews8 followers
January 1, 2024
Sebagai pembuka, saya setuju dengan kata-kata Andrea Hirata di buku Orang-Orang Biasa, bahwa prostitusi adalah profesi tertua umat manusia.

Diangkat dari kisah nyata, penulis tidak memberi saya kesempatan untuk bernapas, bahkan di awal membaca cerita. Adegannya sungguh tragis dan membuat perut saya mual. There's a lot of trigger warning and I can't handle it. Tetapi ajaibnya, itu adalah sebuah pembukaan yang luar biasa untuk menggiring pembaca menuju halaman-halaman selanjutnya. Saya tidak mengira penelitian skripsi mahasiswa kriminologi akan segelap ini—dan uniknya terasa begitu dekat serta realistis. Rasanya seperti membaca skripsi versi novel.

Lewat novel ini, pembaca diajak untuk menilik kehidupan di dunia prostitusi. Kelam yang paling kelam. Dunia yang dipandang sebelah mata dan memiliki stigma buruk. Tidak hanya membahas tentang kehidupan tunasusila yang terlihat glamor dan mudah mendapatkan pundi-pundi hasil dari menjajakan tubuhnya, tetapi juga tentang politisasi mucikari terhadap budaknya, human-trafficking, penyiksaan, kekerasan, dan kenyataan bahwa mereka harus melayani berbagai "harimau" asing di zona teritorialnya sendiri. Saya benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya dijajah sedemikian kejam begitu.

Saya kagum dengan sosok Re:, mulai dari pengorbanan hingga perjuangannya sebagai seorang Ibu sangat menyentuh hati saya. Saya seperti masuk ke dalam jiwa Herman dan ikut jatuh cinta terhadap sosok Re: lewat pandangannya. Lalu Melur, tokoh yang berperan penting dalam mempengaruhi ending cerita sekaligus darah daging Re:, ia tak kalah luar biasa dan membuat cerita ini semakin lebih menarik.

Saya harus mengacungkan dua jempol untuk penulis yang mengangkat berbagai topik dengan korelasi yang begitu baik. Alur dan latarnya begitu gamblang namun tetap mengalir ringan. Selain banyak istilah-istilah tentang dunia prostitusi yang akhirnya saya ketahui, banyak pula kritik sosial yang disinggung penulis namun tak lantas ditekankan seperti sebuah justifikasi; isu-isu agama, ketimpangan hukum, pendistorsian fakta, emansipasi wanita, hingga esensi kehidupan di dalamnya benar-benar membuka perspektif saya.

Novel ini terlalu menarik untuk dilewatkan. The ending is mind-blowing. Saya senang mengenal Re: dan Melur meski hanya dalam cerita.
3 reviews41 followers
January 12, 2024
i liked the first half of the book, but the second half of the book ... not so much.

i dont like the way he talk about Melur in the second half of the book. feels infantilizing to some degree. i dont think its parental instinct (as he claimed in the book) anymore, she's almost 30 ffs!
Profile Image for Al-Al Malagoar.
Author 1 book51 followers
October 12, 2024
Nggak Maman Suherman, nggak Brian Khrisna kenapa sih selalu merepresentasikan riasan pekerja seks sebagai menor? Serius, perbendaharaan penulis laki-laki yang memandang tubuh perempuan hanya sebatas itukah? Plis, deh.

Ceritanya sangat miris dan pedih--apalagi di bagian ending. Tapi kemudian ketika saya ingin menarik satu garis besar dari serangkaian narasi di sini, pertanyaannya hanya ada satu: apa tujuan yang ingin disampaikan Penulis dalam novel ini? Saya nggak peduli apakah cerita ini based on true story atau gimana, selama dia bukan autobiografi dan berupa novel, saya akan tetap memandang buku ini nggak lebih dari roman picisan.

Narasi pedih, mengenaskan, di sini sekadar keinginan tokoh aku yang ingin menyelesaikan skripsinya.
Sikap Re: yang terbuka juga membuatku tidak sungkan untuk berterus terang bahwa sebagian kisah hidupnya akan menjadi bahan skripsiku. Buatku Re: LOL

Jadi apa yang lebih mengenaskan dan memprihatinkan dalam dunia pelacuran di buku ini, ya, pada akhirnya, perempuan, setelah menjadi represi dari kemiskinan, korban dari patriarki keluarganya, masih dijadikan objek pemuas berahi oleh para pemilik kepentingan. Tokoh Aku nggak lebih dari para penyewa jasa senang-senang, bahkan lebih buruk, yang mencoba bermasturbasi melalui kehidupan para penjaja seks--kehadirannya tidak memberikan imbas apa pun pada mereka. Menjijikkan.

Kalau nggak ada dunia pelacur lesbian, apakah si Aku di sini bakal peduli pada perempuan-perempuan itu? Kalau nggak ada keuntungan yang dia dapat, apakah dia akan menolehkan mata melihat penderitaan perempuan? Apalagi pertanyaan-pertanyaan gamblang Herman pada Re: tentang apa saja gaya seks yang dilakukan setelah Re: melayani tamunya.
Kamu ngapain aja?
Dia juga melakukan itu padamu?: (ngejilatin seluruh badan, puting, dan main dildo ke Re)
Najis!


Penggambaran perempuan di sini luar biasa kasar. Gendak, lonte, bahkan menyebut perek? Apakah menjadi mahasiswa membuatmu merasa memiliki martabat lebih tinggi dari perempuan-perempuan di sini? Apakah perempuan akan selalu menjadi hina dan rendah karena berprofesi menjadi pekerja seks? Lalu menyelipkan tema moral dan agama di dalam sini? Ayolah ini lucu sekali.

Saya sama sekali tidak tahu ke mana buku ini diarahkan. Sebab tiba-tiba, si tokoh aku mencoba menjadi pendakwah, lalu menjadi laki-laki kurang ajar, tapi di lain waktu memasukkan narasi tentang kerjurnalannya yang terasa dipaksakan banget ke dalamnya. Jangan tanyakan klimaks, jangan tanyakan konflik, jangan tanyakan perubahan karakter, sebab semuanya setenang dan selempeng tali aliran sungai.
Profile Image for sissi tommo.
57 reviews1 follower
June 29, 2023
Buku ini sangat mengubah pandangan saya terhadap dunia yang saya huni bersama miliaran manusia lain. Ternyata banyak kejadian-kejadian yang tidak saya sangka sangat dekat dengan realitas kehidupan saya sendiri sebagai mahasiswa tingkat dua. Saya tidak menyangka bahwa penulisan skripsi mahasiswa kriminologi bisa segelap dan sedetail itu. Banyak istilah-istilah baru yang saya ketahui dari buku ini. Istilah yang bahkan saya tidak tahu bahwa istilah tersebut ada di dalam bahasa Indonesia, bahasa sehari-hari saya.

Melalui buku ini, saya juga tahu bahwa tidak selamanya seseorang yang ‘menjual’ dirinya adalah seseorang yang tidak menghargai dan menyayangi dirinya sendiri. Melalui tokoh Re: saya sadar bahwa banyak ibu di luar sana yang rela melalukan apa saja untuk menuhi kebutuhan anak kesayangannya. Meskipun dengan menjual dirinya. Menurut saya, Re: adalah sosok yang terpelajar meskipun tidak mengemban pendidikan secara formal. Namun, Re: belajar dari penderitaan hidup di jalanan. Penderitaan yang dideritanya membentuk sosok siapa dia sebenarnya. Banyak pengajaran yang bisa diambil dari Re:

Terima kasih penulis telah menulis buku yang sangat menambah gejolak saya untuk mempelajari istilah istilah kriminologi yang ada dalam buku ini. Tulisan Anda sangat bagus dan sangat membuka wawasan saya dan juga wawasan pembaca lain. Saya senang berkenalan dengan Re:, Melur, dan semua tokoh dalam buku ini.

-sissi
Profile Image for ulul.
6 reviews
March 8, 2023
The pain grew every time I turned the page. She really didn't deserve what happened to her. This book really opened my perspective that there are so many prostitutes who are trapped by vicious pimps just for the sake of money. And the fact that Re: is based on a true story... It broke my heart into pieces. Maman Suherman devoted all his energy and time to his thesis which in the end did prove to be very well and has it quality, something that not everyone can do.

Buku ini amat sangattt menarik di bagian satu, Re:. Ketika masuk ke bagian dua, peRempuan, jadi lumayan membosankan. Alurnya lambat dan fokusnya terpecah belah. Banyak bagian yang sebetulnya tidak berpengaruh terhadap cerita, jadi cuma sebagai pemanis—jadi bertele-tele.

Di bagian kedua, aku harus melewati 9 bab untuk akhirnya bisa masuk ke klimaks. Inti ceritanya ada 3 bab terakhir. Lumayan capek juga. 😅

But overall keren banget bukunya!
Profile Image for Wina S. Albert.
164 reviews2 followers
October 6, 2024
Opini yang disampaikan di sini adalah pandangan pribadi. Saya menyadari bahwa beberapa opini mungkin tidak populer atau bertentangan dengan pandangan umum. Saya mendorong pembaca untuk mempertimbangkan berbagai sudut pandang dan melakukan penelitian lebih lanjut sebelum mengambil kesimpulan. Semua pernyataan dan argumen disampaikan dengan maksud dan tidak dimaksudkan untuk menyinggung atau merendahkan pihak mana pun.
------------------------------------------------------------
"Sikap Re yang terbuka juga membuatku tidak sungkan untuk berterus terang bahwa sebagian kisah hidupnya akan menjadi bahan skripsiku. Buatku, Re bukan lagi sekedar objek penelitian ataupun bahan tulisan tabloid, seperti para perempuan malam yang kutemui sebelumnya, Re
sudah menjadi sahabatku, buku kehidupan bagiku."


Saya seolah-olah dipertemukan dengan seorang penulis yang terpesona oleh "sikap terbuka" Re, yang tampaknya telah mengubahnya dari sekadar objek penelitian menjadi sosok yang lebih manusiawi—seperti sahabat yang bisa diajak curhat. Namun, saya renungkan sejenak: apakah benar Re hanyalah "buku kehidupan" yang bisa dibaca sesuka hati, atau justru kita sedang menyaksikan transformasi Re menjadi karakter utama dalam skripsi yang agung?

Di satu sisi, penulis menyanjung Re, seolah-olah dia menemukan harta karun dalam lautan data. Di sisi lain, ada nuansa sinis di balik pujian itu—seolah-olah Re tak lebih dari plot twist dalam cerita skripsi yang membosankan. Bukankah menarik melihat bagaimana Re, yang dulunya hanya "bahan tulisan tabloid", kini diangkat derajatnya menjadi "sahabat"? Mungkin, ini adalah cara penulis untuk merasa lebih baik tentang eksploitasi yang dilakukannya, sambil memamerkan kepekaan yang sepertinya muncul dari sikap bersahabat yang dipaksakan.

Akhirnya, kalimat ini adalah cermin dari hubungan yang kompleks antara penulis dan objek penelitian, di mana keintiman disamarkan oleh ambisi akademis. Re, si "sahabat" yang hebat itu, sepertinya tidak lebih dari sekadar alat untuk meraih gelar. Dan di sinilah letak kejenakaan dari dunia akademis—di mana hubungan bisa terjalin, namun sering kali dengan agenda tersembunyi yang mencolok.

Citra perempuan—dalam hal ini, Re—ditampilkan dengan cara yang sangat sinis dan menyedihkan, seolah-olah dia hanyalah barang dagangan yang nilainya ditentukan oleh penampilan fisiknya. Saya melihat betapa absurdnya situasi ini. Re, yang seharusnya menjadi agen dalam hidupnya, kini hanya berfungsi sebagai pion dalam permainan yang lebih besar di mana dia tidak memiliki kendali. Pekerjaan yang ditawarkan padanya tidak hanya merendahkan, tetapi juga menunjukkan betapa rendahnya nilai yang diberikan kepada perempuan dalam konteks ini.

Dengan semua ini, bukan hanya menggambarkan ketidakadilan yang dialami perempuan, tetapi juga mengajak kita untuk merenungkan bagaimana masyarakat sering kali mengobjektifikasi perempuan dan mengecilkan peran serta nilai mereka. Re, dalam pandangan ini, adalah gambaran tragis dari perempuan yang terjebak dalam pusaran tuntutan dan stigma, di mana keindahan dan potensi ditentukan oleh orang lain, bukan oleh diri mereka sendiri.

Penulis berusaha menyampaikan pandangan yang bijak dengan nada yang sangat kontradiktif dan penuh ironi. Dia membuka dengan pernyataan tentang kemudahan berkompromi dengan kehidupan orang lain, seolah-olah itu adalah hal yang mulia dan terhormat. Namun, ketika menyangkut keluarga sendiri, serentak sikapnya berubah drastis—seolah-olah ada batasan yang tak terucapkan yang melindungi "kehormatan" keluarga.

Pernyataan seperti "Mereka mau jadi apa pun, terserah," diikuti dengan penegasan bahwa anak-anaknya tidak boleh memiliki pilihan yang sama, jelas menunjukkan keabnormalan dalam logika penulis. Di sini, penulis sangat pandai memilih kata-kata, menciptakan ilusi toleransi yang seolah-olah mengalir deras, tetapi sebenarnya hanya menutupi ketidakmampuan untuk menerima perbedaan dalam lingkup terdekat.

Kalimat-kalimat yang dia kutip dari seorang ayah yang "tega" menyiksa anaknya karena orientasi seksualnya menciptakan gambaran yang sangat tragis. Penulis seolah-olah berusaha menampilkan sosok ayah yang berkuasa dan tegas, tetapi di balik itu, saya melihat ketidakmatangan emosional dan kekurangan empati yang serius. "Saya lebih baik kehilangan satu anak," adalah ungkapan yang mengusik, mencerminkan betapa egoisnya seseorang dapat bersikap ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa cinta dan penerimaan seharusnya menjadi pondasi keluarga.

Apakah penulis benar-benar memahami konsep keluarga dan cinta tanpa syarat? Dia mungkin merasa berhak memberi penilaian terhadap orang lain, tetapi justru menunjukkan ketidakmampuan untuk melihat lebih jauh dari batasan yang dibuatnya sendiri. Di dunia yang seharusnya dipenuhi oleh penerimaan dan pengertian, penulis malah menciptakan dinding pemisah yang tebal antara "yang normal" dan "yang tidak" berdasarkan pandangannya yang sempit.

Akhirnya, kalimat ini bukan sekadar menceritakan kisah tentang ketidakadilan, tetapi juga menyoroti cara pikir yang kaku dan konvensional; di mana dia berusaha terlihat bijak tetapi justru terjebak dalam batasan yang dia buat sendiri.
Profile Image for Asha.
4 reviews
April 7, 2025
Inimah straight romance berkedok lesbi
Profile Image for Alifa.
97 reviews3 followers
July 18, 2023
Tema yang diangkat cukup gelap yaitu tentang kejamnya dunia prostitusi. Menyayat hati, tapi overall just not my cup of tea
Profile Image for nindy.
29 reviews25 followers
April 7, 2022
buku ke-tiga (dan terbaik) yang kutamatkan selama rawat inap.

aku ingin memberi ulasan yang lebih lengkap dan pantas sebagai bentuk apresiasiku pada buku sebagus ini. tapi, kondisiku yang masih rawat inap kurang memungkinkan untuk mengetik panjang. maka aku akan bagikan beberapa hal dulu sebelum nanti ulasan ini kuperbarui.

sepertinya buku ini merupakan gabungan dari dua cerita, yaitu Re: dan peREmpuan, yang diangkat dari kisah nyata.

buku ini mengangkat cerita mengenai Re:, seorang pelacur lesbian yang, awalnya, didekati Herman—seorang mahasiswa tingkat akhir dan wartawan sebuah tabloid—untuk keperluan skripsinya. pertemanan keduanya menguak beragam sisi gelap pelacuran ibukota yang tidak terekspos media.

ada salah satu bagian yang membuatku sedih sekali saat membacanya.
“Kamu kirim doa ya untuk dia. Al Fatihah.”
“Kamu juga dong…”
“Ah, doa pelacur nista seperti gue mana didengar…” (h. 35)

di bab bab terakhir pun, aku nggak sanggup menahan lelehan air mata saat terkenang betapa sulitnya kehidupan yang dijalani oleh Re:. sebagai seorang ibu, Re: selalu mengusahakan yang terbaik bagi Melur, anaknya, meski itu artinya ia harus siap bertaruh nyawa tiap menjalankan profesinya.

yang aku suka dari buku ini adalah bagaimana penulis menyelipkan sindiran terhadap bobroknya tatanan hukum dan sosial yang ada. aku merasakan kemarahan penulis terhadap dunia yang seksis, yang patriarkis, yang ketimpangan hukumnya amat eksplisit, yang pewartanya mendistorsi fakta demi kepentingan kelompok tertentu, dan masih banyak lagi kritik sosial yang diteriakkan.

kesimpulannya: buku ini terlalu menarik untuk dilewatkan.

ah, aku nggak sabar ingin tulis ulasan lengkapnya. sembari menunggu, aku akan lanjut baca sekuelnya, Re:nkarnasi.
Profile Image for Pepero.
84 reviews16 followers
January 9, 2023
Terdiri dari 2 cerita utama yang berjudul Re: dan satunya peRempuan
Re: bersetting pada tahun 80s
Dan peRempuan pada masa sekarang

Bercerita mengenai Herman seorang mahasiswa kriminologi tahun terakhir yang sedang menyusun skripsi Dan memutuskan untuk menyusup Dan mengenal lebih jauh soal "pelacur"

Re: yang merupakan Salah satu narasumbernya adalah seorang pelacur lesbian, Dan buku ini lebih banyak bercerita tentang hidup Re:

Karena kudenger cerita ini berdasarkan cerita nyata, aku bener2 salut sama Melur. Ga semuanya yang memiliki background jelek akan berakhir jelek juga, di buku ini banyak kok contoh anak2 dari orang terdidik dan memiliki kekuasaan yang malah berakhir ga bener 🙃
Profile Image for Mas Alif.
178 reviews3 followers
July 1, 2024
Ini essay alias skripsi yang dijadikan novel.

novel realitas yang cukup membagongkan yang pernah ku baca. Dan plusnya lagi, beberapa insight tentang kehidupan seks ku dapat dari sini. Bukan ke cara berhubungan seks nya yah lebih ke ilmu nya.

Ok jadi novel ini dibagi jadi 2 bagian.

1. Re, untuk part saat kehidupan penulis dan kehidupan Re saling berinteraksi. Eh gimana sih?

Intinya, di bagian pertama ini lebih membahas tentang kehidupan para pelacur lesbian ibu kota. Dan peran penulis disitu.

Nah, dibagian ini banyak hal yang, oh aku baru tau, dan bagian, “loh kok mau muntah saya.” Intinya, disturbing tapi poinnya kena.

2. Perempuan, nah kalo ini, cukup spoiler kalo aku bahas ini disini. Intinya, bagian kedua ini bukan skripsi lagi, lebih ke apa yang ingin diubah dari reaksinya terhadap bagian pertama.

Bagian ini, aku merasa penulis berimajinasi mengenai bagajmana cara menyelasiakan masalah di bagian pertama.

Aku memberi poin penuh karena aku benar suka. Kalo kuliat di review orang ada juga yang mengkritisinya. Namun, bagiku ini pas untuk ekspektasiku. Ekspektasi untuk ukuran skripsi dijadikan novel, ini menakjubkan.
Profile Image for Khalisha.
48 reviews
June 10, 2025
Buku ini keren bgt bgt bgt!!! Apalagi ini dari kisah nyata yang berawal dari penelitian skripsi penulisnya!!

Agak sedih sama tampilan isinya. Karenaa ada yang setelah koma/titik gapake spasi duluu... Terus perparagraf bisa beda-beda jarak spasinya. Jadi pas baca (sedikit) kesel yaa....

Tapii ceritanya bagus kook!
Profile Image for Buddy The Book.
158 reviews16 followers
April 4, 2024
Re: adalah sebuah nama.
Nama seorang wanita yang terjebak dalam lingkaran prostitusi. Dan Herman adalah tokoh lainnya, seorang mahasiswa Kriminologi yang menuliskan kisah Re: sebagai bahan penelitian skripsinya. Jujur aku enggak tahu apakah ini diambil langsung dari pengalaman penulis, atau karya fiksi yang dia buat.

Lewat cerita Re: dan "penelitian" Herman, kita diajak menelusuri kelamnya dunia prostitusi. Anggapan bahwa menjadi pelacur adalah hal mudah, glamor dan bergelimang harta tidak 100% benar. Dunia pelacuran itu kelam. Dan buku ini berusaha menelanjangi apa saja yang dapat ditemukan di dunia malam.

Jaman sekarang mungkin tidak separah dulu, ketika buku ini dituliskan. Kalau jaman sekarang, pekerja seks dapat dengan bebas menjajakan tubuhnya sendiri, dan menarik upah sesuai kebutuhannya. Di jaman Re, jarang yang seperti itu. Semuanya diatur oleh mucikari. Dan mereka harus terima dibayar murah.

Re dan teman-teman pelacur lainnya menjalani hidup di neraka. Sudah disuruh melayani sana-sini, berpotensi terkena penyakit seksual, terlibat human trafficking, melayani klien paling kumuh sampai pejabat dan artis papan atas, upah murah dan belum lagi penolakan masyarakat terhadap pelacur.

Sumpah, deh!
Baca buku ini banyak ngilunya.
Banyak sakitnya.
Banyak prihatinnya.

Buku ini cocok buat siapa saja, asal sudah cukup umur untuk sedikit tahu tentang dunia pelacuran yang katanya "glamor" itu. Tapi harus cukup umur dan aware ya sama bahasan-bahasan soal seks dan kematian di buku ini.
Profile Image for rr.
36 reviews
April 2, 2025
tanpa buku keduanya alias yang Perempuan, gua bakal ngasih bintang 5
Profile Image for Clavis Horti.
125 reviews1 follower
November 21, 2023

Pernah kutanya,
adakah surga untuk Re: yang bergelimang dosa?
Jawabmu, semua orang berkalung salah dan dosa.
Tak ada yang bisa jangkau surga,
kecuali karena ampunanNya.
Re:, katamu, Tuhan bagi siapa saja!


Buku Re: dan peRempuan karya Maman Suherman merupakan sebuah karya yang menghadirkan gambaran mendalam tentang sudut-sudut kehidupan yang sering terpinggirkan dalam masyarakat. Terbagi dalam dua bagian, “Re:” dan “peRempuan”, Maman Suherman mengajak pembaca untuk menyelami realitas yang sering kali tak tersentuh dengan berbagai perspektif.

Bagian “Re:” membawa kita ke dalam kehidupan Re:, seorang pelacur lesbian perempuan tangguh, dan kisah perjuangannya. Maman Suherman menekankan bahwa cerita ini berakar dari kisah nyata, memberikan dimensi autentisitas yang menyentuh. Di bagian “peRempuan”, fokus sedikit beralih pada Melur, wujud nyata dari habis gelap terbitlah terang.

Salah satu aspek yang ditekankan di dalam Re: dan peRempuan adalah kondisi seorang anak yang lahir dari hubungan di luar nikah dan terusir dari masyarakat, bahkan keluarganya sendiri. Kehidupannya yang terbungkus tanda tanya, tanpa kehadiran sosok ayah, memunculkan temuan tentang stigmatisasi dan ketidakadilan yang kerap dialami oleh anak-anak dalam situasi serupa. Buku ini menyuguhkan refleksi tentang perjuangan individu dalam menemukan identitas dan tempatnya dalam masyarakat yang kadangkala tak selalu ramah terhadap keberadaannya.

Buku ini juga mengungkapkan pahitnya eksploitasi terhadap individu yang rentan dan membutuhkan bantuan, seperti yang dialami oleh Re: ketika Mami Lani dengan baik hati memberikan pertolongan kepada Re: di kota, namun ternyata meminta pembayaran atas bantuan yang diberikannya. Hal ini mencerminkan ketimpangan sosial yang mengharuskan mereka yang terpinggirkan membayar mahal untuk bantuan yang semestinya mereka dapatkan tanpa syarat, bahkan dipaksa dengan cara yang tidak bermoral.

Perdagangan manusia, termasuk eksploitasi non-seksual dan seksual seperti pelacuran, merupakan isu penting dalam buku ini. Maman Suherman dengan tajam menggambarkan realitas kelam di mana banyak perempuan dan bahkan lelaki, dari yang muda hingga yang tua, terperangkap dalam lingkaran gelap pelacuran. Ironisnya, beberapa orang tua dan orang terdekat mereka menyadari keadaan ini namun memilih untuk memendam rasa putus asa, ketakutan, atau bahkan acuh tak acuh. Bahkan lebih menyedihkan, para dalang utama, yang acap disebut sebagai Mami dan Papi, yang menjajakan nasib para korban ini, tampaknya kebal terhadap hukum. Tak ketinggalan, bahkan beberapa elite berjubah Yang Mulia pun terlibat dalam jaringan-jaringan kejahatan ini.

Stigma terhadap para pelacur juga disoroti dengan tajam dalam buku ini. Maman Suherman mengupas paradoks yang menghiasi realitas mereka, di mana para pelacur, meskipun tidak mengambil hak orang lain, sering kali menjadi sasaran hinaan dan cacian dari masyarakat. Di sisi lain, penjahat licik seperti koruptor, yang jelas-jelas merugikan masyarakat, kadang-kadang lepas dari jerat hukuman atau bahkan menerima sanksi yang jauh lebih ringan.

Dalam narasi yang kuat, Maman Suherman membawa pembaca melalui kisah-kisah tragis para pelacur yang terperangkap dalam lingkaran eksploitasi. Mereka adalah individu yang seringkali terpinggirkan, terjebak dalam situasi sulit tanpa banyak pilihan. Namun, ironisnya, masyarakat seringkali memilih untuk menyalahkan dan mencaci mereka, tanpa mempertimbangkan latar belakang dan tekanan yang menghadapi. Stigma ini mempengaruhi kehidupan sehari-hari para pelacur, membatasi akses mereka terhadap layanan kesehatan, pendidikan, dan peluang ekonomi lainnya. Mereka terpaksa hidup dalam bayang-bayang masyarakat, terus-menerus menghadapi diskriminasi dan pengucilan.

Buku ini juga menggambarkan dengan penuh kekejaman perlakuan terhadap para pelacur dan orang-orang yang sering kali dianggap sebagai ‘sampah masyarakat’. Pembunuhan terhadap kelompok ini sering kali tidak mendapatkan perhatian serius dari pihak berwenang, bahkan terkadang dianggap sebagai bentuk ‘pembersihan’ yang patut diucapkan terima kasih. Ini adalah potret kejam dari seberapa jauh keadilan bisa terbungkam ketika korban merupakan orang-orang yang marginal di mata masyarakat.

Selain itu, buku ini juga mengajukan pertanyaan yang mendalam mengenai peran media massa dan integritas jurnalis dalam menyajikan fakta. Maman Suherman dengan tajam mengkritik praktik korupsi yang merajalela di dunia jurnalistik, menggambarkan betapa uang mampu memutar arah berita, bahkan mengubah kebenaran menjadi komoditas tawar-menawar. Para elite berkuasa dengan mudah menyembunyikan kesalahan mereka dengan uang, sehingga citra mereka kembali bersih dan cemerlang di mata publik. Para jurnalis dan media massa terkadang lebih tertarik pada gosip-gosip murahan, seperti kisah asmara para penghias layar kaca atau skandal yang sengaja diangkat untuk mencuri perhatian. Sungguh ironis, suara-suara mereka yang tercekik keadilan tidak diberikan ruang, dan dunia terus mengabaikan rintihan mereka. Dengan penulisan yang kuat dan penuh makna, Maman Suherman mempertanyakan integritas dan tanggung jawab profesi jurnalis, serta menunjukkan betapa pentingnya mendengarkan suara-suara yang terpinggirkan di tengah sorotan publik.

Bukan hanya sekadar menggugah, buku ini juga menghadirkan kisah kasih sayang seorang ibu yang tak terbatas. Meskipun Re: hidup dalam bayang-bayang pelacuran, dedikasinya terhadap kebahagiaan anaknya tidak pernah surut. Ia rela mengorbankan dirinya demi memastikan bahwa buah hatinya tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang terlindungi. Kasih sayang ini memancar sepanjang masa, membangun pondasi kokoh bagi pertumbuhan anaknya, dan mengajarkan kita bahwa cinta sejati tak mengenal batas, bahkan di tengah kesulitan dan keterbatasan kehidupan sehari-hari.

Saya terpesona oleh keindahan dan kedalaman yang tersemat dalam setiap halaman buku ini. Awalnya, saya memilih buku ini secara acak, namun ternyata buku ini adalah sebuah harta karun tak terduga. Maman Suherman mampu memukau saya dengan kecerlangan dalam penyampaian ceritanya. Setiap kalimat terasa begitu dekat dan mengajak saya untuk sepenuhnya terhanyut dalam alur yang disajikan.

Diksi yang digunakan oleh Maman Suherman sungguh memukau, menghiasi setiap kalimat dengan keindahan dan kekuatan emosional. Setiap bait puisi yang dihadirkan dalam buku ini memberikan dimensi ekstra, memperdalam pengalaman membaca saya. Saya sering kali terhanyut dalam cerita, bahkan ada beberapa adegan yang mengundang air mata saya untuk mengalir, memaksa saya untuk merenung dalam-dalam.

Buku ini membawa saya melalui sebuah perjalanan emosional yang mendalam, mengeksplorasi sudut-sudut gelap dari kehidupan perempuan yang sering kali terpinggirkan dalam masyarakat. Maman Suherman menggambarkan dengan jelas realitas yang tidak selalu nyaman untuk dihadapi, mengajak pembaca untuk melihat lebih dalam dan mempertanyakan norma-norma yang sering kali memberikan tekanan kepada individu yang terpinggirkan. Lebih dari sekadar kisah-kisah perempuan, buku ini mengupas tema-tema yang relevan dan mendesak, dari perdagangan manusia hingga keadilan sosial. Maman Suherman dengan lihai mengaitkan semua elemen ini menjadi sebuah narasi yang kaya dan mengesankan.

Tak hanya itu, menurut saya, akhir dari cerita di dalam buku ini bukan hanya sekadar penutup, tapi sebuah penegasan yang memuaskan dari seluruh perjalanan emosional ini. Sebagai kesimpulan, Re: dan peRempuan adalah sebuah karya sastra yang memotret kehidupan dari sudut pandang yang jarang dieksplorasi. Maman Suherman tidak hanya menghadirkan cerita-cerita yang mendalam, tetapi juga menyampaikan pesan-pesan penting yang seharusnya tidak terabaikan oleh masyarakat. Saya sangat merekomendasikan buku ini kepada siapa saja yang ingin terlibat dalam perjalanan emosional yang mendalam dan memikat.
Profile Image for dellarsd.
87 reviews3 followers
March 12, 2024
Kisah penuh haru. Menyesakkan, hingga perasaan teriris pilu.

Novel ini dibagi menjadi dua bagian. Re: dan Perempuan. Di bagian awal kita akan mengikuti perjalanan hidup seorang Rere—yang akrab disapa Re:. Awal mula dia bisa terdampar menjadi sosok pelac*r, back story dari keluarga dan kehidupan kecilnya, hingga menjadikan sosoknya yang sekarang. Aku sangat dan sangat mengagumi bagaimana pola pikir Re:. Meski pendidikan yang tak terlalu tinggi, dihinggapi berbagai nasib yang amat tidak menguntungkan, terlebih sampai tidak bisa menggerakkan kehendak pribadi, dia tetap mengutamakan apapun demi anaknya, Melur. Aku tahu kamu cerdas, Re:.

Yap, dibagian pertama inilah hati kita mulai teriris dengan beberapa statemen ‘mereka’ yang hidup di dunia malam. Bagaimana pandangan masyarakat tentang ‘mereka’ yang dianggap lalat karena merugikan orang lain. Cap menjijikkan yang selalu melekat pada mereka, dan banyak lagi. Di sini juga terdapat banyak satir kritisi terkait politik dan antek-anteknya. Mereka yang dikata menjijikkan tapi selalu dicari, dianggap tidak memiliki hak kuasa terhadap suaranya sendiri. Apapun yang berkaitan dengan mereka selalu dilibas dan ditiadakan. Toh, aslinya lebih merugikan para pejabat yang korupsi karena membawa kabur uang masyarakat daripada para pelac*r yang hanya menggerogoti uang pelanggan. (Yang nyata para berdasi-lah yang benar-benar membutuhkan mereka. Jika ingin uang aman, bukankah dengan istri sudah cukup? Itu kebiasaan bukan?)

Setelah dibuat hancur di bagian pertama, kita akan dibawa masuk ke seluk beluk PeREmpuan di bagian kedua. Di bagian ini fokus cerita utamanya adalah Melur—putri Re:, dan kilas balik Maman ketika menulis penelitian 25 tahun lalu. Di sini kita akan diperlihatkan bagaimana hubungan keluarga Maman dan Melur. Maman yang selalu menganggap Melur adalah anaknya, dan hangatnya keluarga dia yang selalu merentangkan tangan ketika Melur datang. Disingkap juga bagaimana Melur yang diam-diam mencari kebenaran tentang Ibunya, masa lalu pelik Ibunya, Ia yang terus menanyakan keadilan bagi masyarakat rendah yang amat bertolak belakang dengan keadilan kalangan atas—dan tanpa sepengetahuan Maman.

Aku cukup suka penuturan di novel ini. Ngaliir dan cukup buat page turner, meski banyak trigger warning nya. Mungkin di awal masih membutuhkan penyesuaian dengan gaya bercerita beliau, karena kebetulan ini adalah buku pertama beliau yang aku baca. Tidak melulu soal PSK dan dunia malam. Di sini juga disinggung beberapa historis Indonesia, salah satunya tragedi Operasi Clurit tahun 1980-an. Ada juga beberapa pembahasan terkait dunia kriminologi, wartawan, wawasan keislaman. Aku selalu suka ketika Maman sering sekali mengaitkan permasalahan dengan selalu mendekatkan diri kepada Tuhan, apalagi lewat puisi-puisinya itu. Kita juga bisa menangkap makna bahwa tak peduli dari mana pun kita berasal, jika kita usaha untuk terus maju (dalam pendidikan, misalnya) semua akan bisa terwujud.

Terima kasih banyak sudah menghadirkan novel ini. Dengannya sedikit pemikiranku mulai terbuka luas. Orang di luar sana sangat bermacam-macam. Kita tidak bisa menetapkan perilaku kita sama kepada siapapun, sesuaikan.
4.5/5 stars for this:)
Profile Image for ileftmybookshere.
218 reviews83 followers
August 3, 2023
"Hidup ini bukan rangkaian sinetron cengeng penuh air mata yang tak berujung. Kesedihan boleh ditumpahkan di dalam dada, di dalam pelukan kekasih, tetapi bukan untuk diperjualbelikan. Air mata bukan mata uang "

Re: dan Perempuan ini dibeliin sama mamaku karena dia abis nonton podcast Daniel Mananta sama Kang Maman dan takjub dengan profesi Kang Maman, seorang kriminolog sekaligus penulis terus aku itu paling suka sama matkul Kriminologi waktu kuliah dulu wkwk🤣 jadi cocoklah ya untuk aku yang diem-diem lebih suka kriminologi dibanding ilmu hukum itu sendiri.

Re: dan Perempuan ini bercerita tentang Re: yang hidup di dunia prostitusi dan ada Herman yang merupakan mahasiswa kriminolog yang sedang melakukan penelitian skripsi dengan topik yang singkatnya bahas tentang dunia prostitusi. Pertemuan keduanya membuka cerita panjang di antara Re dan Herman. Oiya buku ini diangkat dari skripsinya Kang Maman, which means it based on true story.

Dibagi ke dalam dua bagian, cerita dalam buku ini benar-benar candu menurutku. Dari halaman pertama sudah menarik dan bahkan semakin dibalik semakin menarik karena akan banyak rahasia-rahasia terkuak. Jujur, ini gak buat jenuh dan malahan gak bisa berhenti buat baca buku ini. Aku berhenti juga karena masalah cacat produksi aja, halaman bukuku ghoib🤣🤌🏻

Bagian Pertama dalam buku ini berjudul Re: yang menceritakan bagaimana kehidupan Re di dunia prositusi, realita kehidupan seorang pel*cur. Pedih, banyak dari mereka terpaksa melakukan hal buruk itu karena butuh duit. Tapi kadang bukannya dapat duit, malahan mereka terlilit hutang dengan "mami/papi" yang menjadi perantara antara mereka & klien.
Banyak adegan di bagian pertama ini yang ngena menurutku, salah satunya saat Herman mempertanyakan apakah Tuhan menjawab doanya yang mendoakan seorang pel*cur saat sedang 'bekerja' alias buat dosa. 1 kalimat menyentuh: "Pel*cur pun makhlukNya, dan Dia pasti akan selalu menjaga, melindungi dan menyayangi ciptaanNya. Tuhan bagi siapa saja".

Di Bagian Kedua yang berjudul peREmpuan, ceritain keadaan setelah Re meninggal. Tentang Melur dan yang ingin tahu asal usulnya dan rencana balas dendamnya. Melur siapa? Baca aja deh buku ini biar tau siapa Melur. Disini bakalan lebih banyak perenungan setelah bacain narasi kang Maman. Jujur aku tuh salut sama Re, walaupun dia ada di dunia gelap, dia itu tetap pintar dan bahkan banyak ngajarin hal-hal baru ke Herman. Aku gatau kenapa Re bisa sehebat itu dengan pemikiran dia yang super luas itu walaupun hidup dia sudah jatuh di tempat gelap, bener-bener salut!!

Such a great book for me!! 🌟🌟🌟🌟🌟
Profile Image for Bevi Ann.
43 reviews
January 4, 2024
First book in 2024!
humm menyenangkan sekali rasanya membaca bagian yang awal-awal buku ini, yang ku maksud ialah bagian Re:.
Aku menikmati fakta yang baru kuketahui tentang pelacur lesbian, lalu juga ada sebutan seks selain heteroseksual dan homoseksual, yaitu biseksual (seks dengan pria juga wanita), dan istilah lainnya. Juga aku menikmati perbincangan-perbincangan Re: dengan penulis, pemikiran-pemikirannya Re: yang membuatku takjub: Menertawakan penderitaan, kalimat-kalimat yang dikeluarkannya indah sekali.

Lalu baca bagian yang peRempuan. Disebutkan beberapa nama perempuan juga lelaki yang terjun ke dunia kepelacuran, entah itu pelacur itu sendiri, muncikari, germo, atau gigolo, dunia kepelacuran masa kini. Kemudian, perempuan bernama Melur, anaknya Re:. Yang membuktikan bahwa dari rahim seorang pelacur pun, bisa lahir seseorang dengan gelar PhD. Itu bukan keajaiban seperti yang dideskripsikan di buku, itu kerja keras. Tidak peduli dari rahim siapa seseorang lahir, entah itu tokoh agama, pejabat, orang-orang alim, atau orang-orang yang selalu dipanggil 'Yang Mulia', akan menjadi sosok seperti apa kelak. Karena, telah terpapar nyata seseorang yang lahir dari golongan 'mereka' itu banyak yang justru terjun bebas menjadi pecandu, ikut prostitusi, judi, dsb.

Membaca obrolan-obrolan Melur dengan Kang Herman, tentang teori pemindanaan atau balas dendam, membuat ku tahu, mereka berdua yang sedang mengobrol itu ialah orang-orang cerdas, seperti ibunya, Re:Terlihat dari kalimat-kalimat yang dituturkannya.

Tetapi sayangnya, bagiku ini terlalu banyak halaman untuk bagian selain Re:. Rasanya over description. Banyak sekali yang dideskripsikan, banyak juga yang berulang. Sebelumnya sudah pernah dibahas, tetapi masih diulangi kembali. Juga pemikirannya Kang Herman, tentang teori balas dendam yang diungkit oleh Melur, tentang hubungannya dengan balas dendam:, itu selalu memutar-mutar, padahal intinya simple. Kuakui, lebih dari setengah halaman aku merasa jenuh membacanya, suatu usaha keras aku bisa selesai di halaman 327. Dan tidak ada yang mengejutkan, atau setimpal.

Sudah ya, sekian>
Profile Image for ℛ..
138 reviews25 followers
January 20, 2024
Selama baca buku ini, aku rasanya seperti bukan lagi baca buku fiksi (karena memang katanya buku ini berdasarkan kisah nyata). Berkali-kali aku dibuat bengong dan merenung, soalnya aku dibuat seperti orang cupu, nggak ngerti apa-apa, orang yang mainnya 'kurang jauh'. Gimana nggak? Walaupun aku bisa dibilang cukup (sekadar) tau sama tempat-tempat yang disebutkan, tapi aku betulan asing dengan kehidupan yang ada pada masa itu, dalam artian kehidupan malamnya.

Tema tentang pelacur lesbian ini betul-betul baru aku ketahui lewat buku ini. Dengan ragam istilah dan juga penjelasannya, aku seperti orang yang nggak ada apa-apanya.

Menurutku, buku ini tuh sadis. Walaupun banyak benarnya (menurutku), dan banjir fakta. Mau bagaimanapun, apa yang ada di buku ini sebetulnya ya memang nggak jauh berbeda dengan apa yang ada dalam kehidupan nyata hingga masa kini. Prostitusi itu ada di mana-mana, dari beragam latar belakang dan usia, bahkan nggak cuma prostitusi secara heteroseksual aja, tapi juga sesama jenis.

Tapi, jujur kisahnya Rere ini sedih, sangat sedih, memilukan. Kayaknya aku sendiri nggak bisa menggambarkan kesedihannya hanya lewat kata-kata. Rasanya setiap lembar dan halaman buku ini terlalu banyak kesedihan dari kehidupan Rere yang sebenarnya mungkin bisa hidup lebih bahagia. Semuanya terlalu kejam.

Ada sedikit hal yang bikin aku geleng-geleng kepala selain kisahnya Rere yang digambarkan di buku ini yaitu: SKRIPSI YANG SAMPAI MENAHUN.

Om Herman ini rasanya patut aku acungi jempol dalam menuntaskan tugas akhirnya. Belum lagi sewaktu mencari materi buat bahan skripsinya Om Herman ini harus bertaruh nyawa. Mungkin di zaman sekarang nggak ada yang begini, ya? Kayaknya kalau aku, nggak akan sanggup. Belum lagi Ibu Sabariah yang kalau zaman sekarang akan dibilang dosen killer banyak mau. Keren betul, Om Herman bisa melaluinya sampai dengan lulus. Salut.

Hal lain yang bikin aku bengong adalah endingnya. MELUR KOK BISA BEGITU? Cukup bikin kaget walaupun sebenarnya sudah sedikit diarahkan menuju ke sana sewaktu cerita hampir sampai ke bagian akhir.

Walaupun dari pertengahan sampai ke menjelang akhir aku sempat bosan sama isi bukunya, tapi aku cukup suka dengan buku ini. Sayangnya di beberapa bagian sepertinya ada yang typo ya? Dan ada kesalahan penulisan tanda baca jadi agak bingung sedikit. Tapi, overall sih menurutku buku ini sangat bagus.

Buat Om Herman, coba deh dengarkan lagunya Joji yang Glimpse of Us soalnya Om Herman ngingetin aku sama lagu itu.
Profile Image for C F.
2 reviews
October 14, 2024
Rating saya sebenarnya 4,5. Tapi biarlah, saya bulatkan ke 5 karena novel ini benar benar menyentuh hati (eak)

Sebagus apa novel ini bagi saya? Saya menutup halaman terakhir buku ini sambil tersenyum, mata berkaca kaca. Membaca kisah ini membuat saya mengucapkan syukur berkali kali. Dan saya tanpa sadar ikut berdoa untuk sosok 'Re:' ini. Sebagus itu.

Pelacur, tapi penokohan Re: ini keren sekali. Too good to be true, kalau kata saya. Saya harus baca cover belakang buku ini berkali kali untuk meyakinkan kalau orang sebaik ini betul ada di kehidupan nyata. Padahal dia di sini sebagai pelacur, tapi saya benar benar respect dan kangen dengan tokoh Re: saat namanya tidak disebutkan lagi di bagian belakang buku. Se berbekas itu penokohan seorang Re:.

Kenapa hampir saya kasih 4,5? Typo bertebaran, simple. Ada kata yang disingkat seperti 'yg' dan kalimat yang tidak di-spasi setelah titik. Tidak fatal, tapi menurut saya cukup mengganggu. Tapi gapapa lah, toh, plot di novel ini sudah cukup membuat saya melupakan typo tersebut.

Jujur, kalau bukan karena tokoh Re:, saya sudah memberikan novel ini bintang 4, bahkan 3. Novel ini memang lebih terasa sebagai penelitian daripada novel. Bisa dimengerti dan saya tidak membenci hal tersebut. Unik, malah. Tapi dari pandangan saya, banyak kata-kata dan konteks yang cukup membingungkan bagi saya yang awam dalam topik ini. Saya hanya bisa meraba raba artinya. Banyak juga konteks di sini yang cukup... Questionable. Namun akhirnya saya memilih melihatnya dari sudut pandang manusia, atau sudut pandang yang positif.
Profile Image for Riri Reads Books.
107 reviews1 follower
January 30, 2025
5/5—

First 5 stars of the year!

"Aku ingin menyampaikan kepada dunia, bahwa dari rahim seorang PSK, terlahir seorang anak perempuan yang kini bergelar PhD in Economics, lulusan ternama universitas di luar negeri pula. Hal yang sebaliknya bisa terjadi. Anak pejabat malah menjadi gendak."

"Ukuran terindah cinta adalah mencintai tanpa pernah mengukurnya."

Ahhh peliknya mengikuti kehidupan Re: dalam sudut pandang Herman, yang sedang menyusun skripsi. Rere merupakan cerminan perempuan yang tidak memilih jalan menjadi PSK namun ia tidak memiliki pilihan. Pemikiran2 Re yang lugas bener bener eye opener buat saya sebagai pembaca dan banyak kata kata beliau yang cukup kena. Selain itu, Herman yang juga menyisipkan hasil penelusuran beliau akan skripsi soal PSK juga waw... bener bener gelap banget

Selain itu, di bagian PeRempuan, kita dikasih point of view Melur (anak Re:) yang tumbuh dewasa dan menanyakan kebenaran yang dititupi, meski keliatannya sudah jelas terpampang yang namanya belum dikasih statement tuh gimana ya.. :") Melur sama lugas dan cerdasnya dengan Re, meskipun kayanya mas Herman agak mendramatisir soal his remained feelings dengan Re dan beberapa adegan yang bisa dibilang cukup filler, aku tetap bisa mengikuti perjalanan Melur mengenal koneksi lebih dalam dengan Re. Plus endingnya!!

In the end, this book ruined me in a good and painful way
3 reviews1 follower
November 21, 2025
Ini ada buku fiksi yang pertama kali ku baca. Jujur kaget karena banyak bahasa yang baru, yang cukup vulgar bagiku, namun semakin membacanya semakin larut di dalamnya. Berawal dari seorang mahasiswa yang sedang melakukan penelitian untuk skripsinya, akhirnya menjadi sangat melekat dengan narasumbernya yang seorang pelacur lesbian. Di sini sangat jelas betapa mengerikannya sisi dunia gelap yang selama ini tidak aku mengerti jelas isinya seperti apa. Menurutku buku ini membuat aku semakin mengerti betapa mengerikannya dunia ini, bahkan sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu, tak hanya dalam segi dunia malam namun juga dalam sisi politik dan sistem penegakan hukum.

Di sisi lain, buku ini menyadarkanku kembali bahwa jangan menilai seseorang hanya dari sampulnya saja. Lihatlah Re:, dia seorang pelacur lesbian namun dapat memiliki pandangan hidup yang sangat keren, memilih untuk melahirkan anaknya, Melur, dan tetap membiayainya, sampai akhir hayatnya. Sangat terasa betapa besar cinta Re: kepada anaknya. Cara Re: memaknai hidupnya juga sangat keren, bahkan bisa membuat penderitaannya sebagai lelucon di setiap percakapannya dengan Herman. 1 kata untuk Re:, SALUT.

Buku ini bercerita dengan bahasa yang ringan, menarik, dan puitis. Selain itu juga membukakan lagi pandangan-pandangan baru terhadap dunia ini. Nice!!!✨✨
Profile Image for Ama.
11 reviews1 follower
March 25, 2025
pertama kali baca buku yang membahas dunia prostitusi. and it turns out good! aku suka! Re: bener-bener perempuan yang kuat dan hebat dalam ngejalanin hidupnya bahkan sampai akhir hayat. banyak kata-kata dia yang bisa kuambil sebagai ‘pengingat’ dalam menjalani hidup.

btw buku ini terdiri darj 2 buku yang akhirnya dijadiin satu. dan sebenernya aku setuju dengan beberapa pendapat reviewer yang aku baca, cukup sampai di buku Re: saja sebenarnya sudah cukup. Re: itu seru banget dan banyak informasi yang ga aku ketahui sebelumnya. tapi di peRempuan, menurutku lebih banyak diisi tentang opini si Herman nya dan hal-hal yang…. meh, ga perlu-perlu amat dah kayaknya… ada banyak pengulangan untuk ceritanya dan ada yang yang ga penting tapi diceritain.

tapi di ending buku ini cukup bikin aku kaget dan bangkit dari dudukku sih haha ga expect ternyata bakal begitu ya tsay.

overall, Re kamu keren banget karena bisa sekuat ini. we all know that youre a good person and a good mom. i would say buku ini akan membekas di diriku, with no hesitate aku akan ngerekomen buku ini ke orang-orang sekitar! oh ya, untuk buku yang udah cetakan ke sekian ada lumayan banyak typo ternyata, agak heran juga sih tapi yaudah lah
Profile Image for Syakirah Athaya Azalea.
42 reviews8 followers
November 5, 2022
Two reasons that made me like this book. To begin with, we encounter many terms of criminology. Herman himself is a student of criminology at the University of Indonesia. That caught my attention because I like things that involve the knowledge of criminals. In this book, we were made to realize that the world is crueler than what is in our heads.
Nia tallu cappa' bokonna to lampaiyya, iyamintu: cappa' lila, cappa' laso, cappa' badi'.
It's one of pappasang to riolo, ancestral messages in Bugis-Makassar tribal culture that are devoted to bu'rane or a man. In this case, Herman was born in Makassar and migrated to Jakarta is required to carry a badik, which is a sharp weapon and prohibited by airports and ports. That's defined to all intents and purposes question for me because remembering my father, who also used to wander, clearly took his badik with him when he left Makassar. The ancestors believed that the badik or kris had magical and spiritual powers, even the badik that was well taken care of and was usually very old. The explanation of Bugis-Makassar culture in this book makes a second reason for me.
Profile Image for Ms.TDA.
242 reviews4 followers
August 24, 2024
Sebenarnya aku sudah membaca karya Re: di buku sebelumnya dan dibuku ini aku melengkapi di bagian part ii yang menceritakan tentang sosok Melur yang mencari tentang jati dirinya. Lumayan ada beberapa pertanyaan yang belum terjawab di sesi akhir cerita ini sehingga memberi kesan kesimpulan pertanyaan terbuka ke pembaca. Tapi aku sangat menikmati alur kisah dari penulis yang memaparkan hal tabu di negri ini tapi marak dalam masyarakat luas.

Suka banget dengan ungkapan Re: di part ii, bahwa “bahagia itu ada di hati setiap orang. Termasuk di hati pelacur seperti aku. Bisa jadi orang kaya yang membayar untuk meniduri aku itu, tidak lebih bahagia dari aku.” 👍🏻
Profile Image for Nining Sriningsih.
361 reviews38 followers
April 25, 2023
*baca di Gramedia Digital

fiuuuuuh..
baca ini tuch asli nano-nano abiz..
>,<

Awal bacanya jijik & asing banget, baru tahu "ouw kayak gitu ternyata" dan masih buanyaaaak ouw yg lainnya..
:O

Tapi semakin di baca, semakin "ouw gini ternyata, yaach nggak patut disalahkan juga sich"..
Baca ini tuch jadi antara nambah wawasan & pengetahuannya juga..
Apalagi ini kisah nyata, dan emank yaa masih banyak kok manusia di luar sana yg baik & nggak terduga..
Takdir tuch emank nggak bisa ditebak yaa..
:')
Profile Image for Hannania.
29 reviews5 followers
July 6, 2024
Aku menikmati tulisan tentang RE: dari POV penulis. Ada kasihannya juga. Trus geram kenapa sih mau keluar dari tempat pelacuran sedemikian sulitnya. Lalu bangga juga pada Re: yang tidak sok dan bergaya hidup hedon. Mencari uang benar-benar untuk keperluan diri dan anaknya. Tapi penggambaran cara dia kerja agak sedikit menjijikan ya.

Lalu di bab yang perempuan aku tidak terlalu menikmati karena ada banyak bagian yang isinya menceritakan kembali tentang kisah di bagian Re:. Terus kenapa ada kisah balas dendamnya segala kayak gitu ya. Padahal yang lain-lain nasehatnya udah benar. Lalu kenapa balas dendam dengan cara seperti itu?
Profile Image for ♡, fisc..
8 reviews7 followers
January 12, 2023
Buku ini gak serta merta fokus ke kehidupan pelacur aja, banyak pelajaran hidup dan mengharukan di buku ini. Intinya, setelah baca buku ini, aku disuruh untuk banyak bersyukur dan menikmati hidup yang ada.

Ada dua bagian yang terbelah dari buku ini, di bagian Rere dan bagian Melur. Transisi ke bagian Melur tuh sedikit bikin kaget 😭 karena ada kejadian yang menimpa Rere.

Aku suka buku ini, tapi karakter Melur di sini sedikit membuat aku gak nyaman… kenapa gitu ya?

But, overall, karakter Rere yang kuat menginspirasi banget. Itu yang membuatku bertahan membaca buku ini.
Profile Image for Jessy Willy Pramestie.
153 reviews1 follower
February 20, 2024
Aku ngga bisa komentar banyak karena bukunya sebagus itu dan ada plotwist di akhir. Menguak topik feminisme dengan tokoh sebagai PSK Lesbian. Memang ada beberapa scene perdebatan mengenai seluk beluk kriminologi dan hukum yang sedikit buatku bosan. Tapi itu ngga membuat aku berhenti untuk menyelesaikan baca novel ini. Di ending apakah anak dari tokoh utama penyebab kematian si pria itu? Ya, sepertinya dia ada rasa dendam sebelum kembali ke Tokyo.

Aku beri 4,8/5 bintang
Displaying 1 - 30 of 374 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.